Bismillahirrahmannirrahiim..
Sebagai seorang wali siswa yang selalu mengamati perkembangan pendidikan anak – anak, saya merasa terinspirasioleh semangat dan gagasan inovatif yang ditanamkan melaluiKurikulum Merdeka di MIN 27 Aceh Besar. Kurikulum ini, yang mengutamakan pembelajaran berbasis pada kegiatan luar ruang, telah memberikan anak-anak kesempatan untuk belajar dengan cara yang berbeda dan lebih interaktif. Mereka tidak hanya belajar didalam kelas, tetapi dapat mengalami langsung dengan praktek nyata diluar kelas.lingkungan belajar yang dinamis dan penuh tantangan.
Kegiatan-kegiatan pembelajaran outdoor yang telah diterapkan seperti partisipasi dalam lomba-lomba antar sekolah,outbound yang dilaksanakan untuk Prajurit dan DokTer CilikMadrasah, serta penyelenggaraan Piasan Seni (PINSI) yang rutin diadakan setahun sekali dan telah berlangsung 3 kali telah membuktikan bahwa pembelajaran tidak harus terbatas pada buku dan papan tulis. Anak-anak mendapatkan kesempatan untuk mengasah kreativitas, kerja sama, dan keberanian melalui tantangan-tantangan yang mereka hadapi di luar pembelajaran tradisional. Kegiatan-kegiatan ini selain memberikan pengalaman berharga juga mendorong mereka untuk berpikir kritis dan kreatif serta membentuk karakter yang tangguh.
Selain itu, kunjungan ke Laboratorium Fisika Dasar diDepartemen Fisika Universitas Syiah Kuala dan eksplorasi langsung untuk siswa kelas 5 dan 6 merupakan contoh nyata penerapan pembelajaran terintegrasi yang menggabungkan teori dengan praktik. Kegiatan tersebut tidak hanya memperkaya pengetahuan akademik namun juga menumbuhkan rasa ingin tahu dan kecintaan terhadap ilmu pengetahuan. Begitu pula dengan aktivitas menulis dan berimajinasi dalam Tim Penyala Nyalanesia yang memberikan ruang bagi anak-anak untuk menuangkan ide dan pikirannya kedalam bentuk tulisan serta mengasah kemampuan berbahasa dan literasi mereka.
Dibalik segala keunggulan dan keunikan metode pembelajaran ini, saya juga mengamati beberapa aspek yang perlu mendapat perhatian serius. Salah satu kekhawatiran utama adalah tentang penguasaan pengetahuan dasar yang menjadi fondasi pendidikan di tingkat sekolah dasar. Walaupun metode pembelajaran melalui kegiatan outdoor memberikan pengalaman belajar yang menyenangkan, ada indikasi bahwa penguasaan konsep-konsep dasar seperti perhitungan matematika, perhitungan dan pengelolaan uang, serta pemahaman konsep perhitungan persen sederhana mulai tergeser. Saya menemukan bahwa beberapa siswa bahkan kesulitan dengan perkalian sederhana atau membaca jarum jam yang merupakan beberapa dari sekian banyak kemampuan dasar yang sangat penting untuk kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya itu, penerapan Kurikulum Merdeka yang memberikan kebebasan dalam bereksplorasi terkadang berujung pada kurangnya disiplin dan struktur dalam penguasaan ilmu
dasar. Di era di mana kreativitas dan inovasi sangat digalakkan,saya khawatir nilai -nilai dasar seperti ketelitian, disiplin belajar,dan kemampuan berpikir logis mulai terabaikan. Hal ini terlihat dari peningkatan kasus perundungan serta kecenderungan rendahnya empati antar siswa, baik dikelas tingkat atas maupun dikelas tingkat bawah. Kekurangan tersebut menimbulkan pertanyaan penting”apakah kebebasan dalam berekspresi dan eksplorasi bisa tetap seimbang dengan penguatan aspek akademik yang esensial?
Kekhawatiran saya semakin bertambah ketika melihat pentingnya penanaman nilai-nilai karakter pada pendidikan dasar namun kurang di implementasikan.Pendidikan tidak hanya tentang pencapaian akademik, tetapi juga pembentukan akhlak dan sikap yang mulia. Nilai -nilai seperti saling menghormati,tolong-menolong, dan bertanggung jawab harus tetap menjadi prioritas meskipun metode pembelajaran terus berevolusi. Pada dasarnya, setiap anak membutuhkan fondasi yang kuat baik secara akademik maupun moral untuk dapat tumbuh menjadi individu yang utuh dan berdaya saing di masa depan.
Pentingnya keseimbangan antara pembelajaran inovatif dan penguatan dasar pendidikan menjadi benang merah dalam refleksi ini. Saya berharap agar pihak sekolah dan para pendidik dan orang tua siswa yang paling vital dan terlibat kuat di dalamnya dapat mengintegrasikan kedua pendekatan tersebut.Metode pembelajaran yang menyenangkan dan kreatif harus tetap dilengkapi dengan upaya sistematis dalam menguasai pengetahuan dasar, seperti pengajaran matematika secara intensif dan terstruktur, latihan praktis dalam kehidupan sehari -hari,serta penerapan nilai-nilai disiplin dan kerja sama yang lebih mendalam.
Saya yakin dan percaya bahwa dengan penyesuaian yang tepat, Kurikulum Merdeka yang diterapkan selama ini di MIN 27 Aceh Besar pada khususnya serta diseluruh Indonesia pada umumnya, memiliki potensi besar untuk mencetak generasi yang tidak hanya kreatif dan inovatif, tetapi juga memiliki fondasi akademik yang kokoh dan karakter yang mulia. Implementasi yang berimbang antara kegiatan luar ruang dan pengajaran dasar dapat memberikan manfaat yang optimal bagi perkembangan anak-anak. Semoga ke depan, berbagai pihak dapat bekerja sama untuk terus memperbaiki sistem pendidikan ini agar menghasilkan lulusan yang tidak hanya cerdas, tetapi juga mampu beradaptasi dan bertanggung jawab di tengah dinamika masyarakat yang semakin kompleks.
Penulis : Syarifah Fathmiyah, M.S
Wali siswa dari Syarifah Aisyah kelas 5 Digital (Al FAttah) Dan SyarifahKhadijah, Kelas 3 Al-Aziz

Terlindungi: Karya Literasi Sekolah
Tidak ada kutipan karena ini adalah pos yang terlindung sandi.