Di era digital saat ini, literasi budaya berdiri di persimpangan jalan antara kepunahan dan peluang. Gelombang budaya asing kini membanjiri ruang privat melalui algoritma media sosial tanpa filter. Tanpa pemahaman budaya yang kokoh, generasi muda berisiko menjadi sekadar pengikut trend yang kehilangan daya kritis untuk menyaring nilai-nilai yang bertentangan dengan etika dan norma lokal.
Teknologi dan modernitas bukanlah ancaman jika dikelola dengan literasi yang tepat. Sebaliknya, keduanya adalah alat revitalisasi. Literasi budaya memungkinkan kita melakukan penyesuaian dengan tradisi, mengemas warisan leluhur ke dalam format yang segar.
Implementasi nyata dari strategi ini terlihat jelas pada pergelaran Piasan Seni MIN 27 Aceh Besar. Ajang ini bukan sekadar pentas seni, melainkan sebuah laboratorium literasi budaya di mana siswa:
Menampilkan tari daerah maupun tari kreasi dengan sentuhan kreativitas modern tanpa menghilangkan ruh spiritualitasnya. Menggunakan panggung sebagai konten edukatif di media sosial, mengubah gawai dari alat konsumsi menjadi alat pelestarian.
Menghadirkan literasi budaya melalui kegiatan seperti PINSI di Aceh Besar memberikan dampak sistemik yang signifikan:
Siswa tidak lagi merasa ketinggalan zaman saat mengenakan pakaian adat atau berbahasa daerah. Mereka memahami bahwa menjadi modern tidak berarti harus mengkhianati masa lalu.Tergoyahkan
Warga madrasah dan orang tua terlibat aktif membentengi generasi muda dari dampak negatif globalisasi dengan nilai-nilai Islami dan adat keacehan yang kental (Adat bak Po Teumeureuhom, Hukom bak Syiah Kuala).
Kegiatan PINSI melatih siswa berdiri tegak sebagai warga dunia yang kompeten secara teknologi, namun memiliki integritas moral yang tak tergoyahkan.
Literasi budaya adalah kompas yang menjaga kita tetap berpijak pada akar tradisi sembari terus tumbuh menjulang ke arah kemajuan. Melalui inisiatif seperti Piasan Seni (PINSI) MIN 27 Aceh Besar, kita membuktikan bahwa tradisi adalah energi untuk masa depan, bukan beban masa lalu. Dengan literasi yang tinggi, kita tidak hanya sekadar bertahan di era globalisasi, tetapi mewarnainya dengan identitas kita sendiri
Persgu: Sri Hastuti,S.Pd.I
