Matahari sudah condong ke barat, sinarnya yang keemasan menembus celah ventilasi kelas di MIN 27 Aceh Besar. Suara riuh rendah kendaraan teman-teman sejawat yang mulai meninggalkan pekarangan madrasah terdengar sayup-sayup dari kejauhan. Jujur saja, ada sedikit rasa getir yang menyelinap di hati saya saat melihat mereka melambai pamit untuk pulang lebih awal. Namun, saya segera menepis perasaan itu. Di hadapan saya, tiga pasang mata kecil masih menatap papan tulis dengan penuh rasa ingin tahu.
Menjadi guru pembimbing bagi saya bukanlah sekadar tugas tambahan; itu adalah sebuah pengabdian yang menguras energi namun penuh makna. Di madrasah ini, mimpi besar sedang kami rajut bersama. Kepala madrasah, rekan pendidik, hingga orang tua menaruh harapan setinggi langit agar anak-anak ini mampu bersaing, tidak hanya di tingkat kabupaten, tapi hingga ke kancah nasional.
“Bu, apa kita masih lanjut?” tanya salah satu murid bimbingan saya untuk tim cerdas cermat. Saya tersenyum tulus menatapnya. “Tentu, satu materi lagi ya. Kita harus siap.”
Tantangan yang saya hadapi tidaklah sederhana. Saya harus menjadi manajer waktu yang ulung—pagi mengajar di kelas formal, dan sorenya mencurahkan pikiran untuk membimbing materi lomba. Belum lagi urusan memahami karakter anak yang beragam; ada yang cepat tangkap, ada yang harus saya jelaskan berulang kali dengan pendekatan berbeda. Koordinasi dengan orang tua pun menjadi kunci, meyakinkan mereka bahwa jam tambahan di luar sekolah ini adalah investasi berharga bagi masa depan sang buah hati.
Seringkali, rasa lelah itu menyapa. Terutama saat melihat ruang guru mulai sepi sementara saya masih harus bergelut dengan tumpukan soal dan modul. Namun, kesabaran, keikhlasan, dan rasa tanggung jawab menjadi bahan bakar utama saya. Beruntung, semua warga MIN 27 Aceh Besar bahu-membahu menciptakan ekosistem yang sangat suportif.
Waktu pun membuktikan bahwa hasil usaha tidak akan pernah mengkhianati proses. Kerja keras yang kami lakukan dengan tetesan keringat dan untaian doa itu akhirnya bersemi indah di tahun 2025.
Gema takbir dan sorak sorai pecah saat pengumuman pemenang di ajang bergengsi yang digelar oleh Oemar Diyan. Tim cerdas cermat kami berhasil berdiri di podium, menyabet Juara 2. Kebahagiaan saya membuncah saat prestasi gemilang kembali terukir di ajang Porseni Aceh Besar 2025, di mana anak-anak sukses meraih Juara 3.
Keberhasilan ini bagi saya bukan sekadar tentang piala atau piagam yang terpajang di lemari kaca. Ini adalah pembuktian bahwa bimbingan khusus, disiplin, dan dedikasi mampu mengubah tantangan menjadi prestasi nyata.
Penulis : Masriana, S.Pd.I ( Koordinator Bidang Kurikulum MIN 27 Aceh Besar)
