WhatsApp-Image-2026-03-06-at-08.51.50
Cerpen  “Narasi Tinta di Gerbang MIN 27”

Oleh: Sri Hastuti, S.Pd.I

Matahari baru saja menyembul di ufuk Timur, menyepuh langit Aceh Besar dengan warna keemasan. Di ruang perpustakaan MIN 27, saya berdiri diam, menatap jajaran rak buku yang seolah sedang berbisik. Saya selalu percaya, madrasah ini adalah rahim bagi ribuan ide besar yang masih tersembunyi di balik tinta-tinta yang belum sempat tertuang.

Semua bermula dari sebuah getaran kecil di layar ponsel, sebuah tantangan di grup WhatsApp PERUAS (Perkumpulan Rumah Seni Asnur). Tahun 2022, saat proyek Antologi Penulis Gurindam ASEAN dibuka, suasana di madrasah kami masih senyap. Literasi masih dianggap sebagai “tugas sampingan”.

Namun, di tengah kesunyian itu, muncul dua srikandi pejuang: Ibu Nurafni dan Ibu Safriana. Dengan ketelitian jemari dan ketajaman rasa, mereka mulai merajai bait-bait nasihat kuno. Mereka adalah pionir, pemecah kebekuan yang membuktikan bahwa guru bukan sekadar pengajar, melainkan juga penjaga peradaban melalui tulisan.

Setahun berlalu, gema itu menjelma menjadi dentuman. Tahun 2023, proyek Syair Internasional diumumkan. Di sinilah titik baliknya. Ibu Naswati, Sang Kepala Madrasah, membuat keputusan yang menggetarkan, beliau menolak untuk sekadar menjadi penonton.

Beliau turun gunung, menggenggam pena, dan memimpin barisan penulia, saya dan Ibu Nurafni. Kehadiran pemimpin di garda depan literasi ini bagaikan embun di musim kemarau; memberi kesejukan sekaligus kobaran semangat bahwa menulis adalah ibadah intelektual.

Momen itu abadi dalam buku “Syair Untuk Negeri”. Sebuah mahakarya yang mencatat Rekor MURI dengan 2.023 penulis dari lima benua. Ada kebanggaan yang membuncah saat nama kami bersanding dengan ribuan penggiat literasi dunia. Kami bukan lagi sekadar guru di pesisir, kami adalah bagian dari sejarah dunia.

Waktu terus bergulir hingga tahun 2024 menyapa. Kali ini, gelombang Pantun Karmina dan Mutiara Budaya menerjang. Tim Literasi yang awalnya malu-malu, kini mulai menunjukkan taringnya. Sebanyak 18 guru bersatu, meluruhkan sekat administrasi demi sebuah karya.

Ruang guru yang biasanya riuh dengan urusan nilai, kini berubah menjadi bengkel sastra. “Apa rima yang pas untuk ‘Aceh Besar’?” tanya seorang guru sembari mengernyitkan dahi. “Bagaimana kalau ‘Ikhtiar’?” sahut yang lain disambut tepuk tangan.

Canda tawa itu bukan sekadar bumbu, melainkan bahan bakar. Saat nama MIN 27 Aceh Besar terpampang nyata di antara ribuan penulis pantun Nusantara, kami tahu, literasi telah menjadi candu yang positif bagi kami.

Tahun 2025 menjadi saksi bisu ledakan kreativitas kami. Proyek Antologi Puisi Etnik Nusantara menjadi muaranya. Gerakan ini tak lagi terbendung. Bukan hanya tim literasi, guru-guru lain pun ikut merayakan bahasa ibu, menuliskan kerinduan pada budaya, dan mengabadikan kearifan lokal dalam 1.417 puisi dari lima negara Asia Tenggara.

Satu Madrasah Menulis! Sebuah pencapaian prestisius yang mengguncang panggung internasional.

Kini, identitas baru telah melekat. MIN 27 Aceh Besar bukan lagi sekadar sekolah, melainkan “Madrasah Literasi”. Perpustakaan kini menjadi jantung yang berdenyut kencang. Siswa-siswa kami tak lagi hanya membaca buku orang lain; mereka menatap buku karya guru mereka sendiri dengan mata berbinar. “Jika guru saya bisa, saya pun harus bisa,” menjadi mantra yang bergema di setiap lorong kelas.

Di balik semua kegemilangan ini, sosok Ibu Kepala Madrasah berdiri tegak sebagai mercusuar. Beliau adalah pemimpin yang tak hanya memberi perintah, tapi memberi arah melalui tindakan. Dukungan moril dan materiilnya adalah oksigen bagi api literasi kami.

Atas dedikasi yang tanpa henti, dari hanya 2 orang hingga menggerakkan seluruh lembaga, beliau pun dinobatkan sebagai Tokoh Penggerak Literasi Tingkat Internasional. Sebuah gelar yang bukan sekadar plakat di dinding, melainkan bukti nyata bahwa cahaya dari pesisir Aceh kini telah menerangi cakrawala Nusantara.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait

Legenda Danau Laut Tawar

Sumber Youtube MIN 27 Aceh Besar Dari video ini menceritakan tetntang kisah Danau laut Tawar dalam bentuk story telling. Story telling ini dibawakan oleh Nurul Izzah siswi MIN 27 Aceh Besar pada ajang lomba Marssal 8 MTsN Model Banda Aceh. Dalam story telling ini menceritakan pada zaman dahulu di tanah Takengon, Aceh hiduplah seorang putri

Baca selengkapnya...

Sang Inspirator

    Menurut Peter F.Drucker, “Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya”. Berbicara mengenai pemimpin … sosok kepala Madrasah MIN 27 Aceh Besar sudah malang melintang dalam dunia pendidikan, sudah banyak sekolah yang dibawah kepemimpinan beliau berhasil menjadi sekolah favorit. Hal tersebut tidaj

Baca selengkapnya...