Akhir bulan Juli 2026 menjadi awal sebuah perjalanan yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.
Saat itu, Ibu Kepala Madrasah memanggil saya untuk membicarakan persiapan PORSENI yang akan dilaksanakan pada tanggal 27–30 September 2026. Salah satu cabang yang akan dilombakan adalah seni tari. Karena saya memang berasal dari jurusan Seni Drama, Tari, dan Musik (Sendratasik), Beliau meminta bantuan saya untuk melatih anak-anak dalam lomba tari. Tarian yang dipilih adalah Tari Kopi. Kebetulan, tarian tersebut sudah pernah saya ajarkan kepada anak-anak kelas VI Ar-Rasyid pada semester sebelumnya untuk acara PINSI 4 MIN 27 Aceh Besar, kegiatan tahunan di madrasah kami.
Keesokan harinya, saya bersama Pak Furkan dan Ibu Kepala Madrasah berkeliling ke beberapa kelas untuk mencari anak-anak yang dianggap cocok membawakan Tari Kopi. Setelah beberapa anak terpilih, kami berkumpul di ruangan Ibu Kepala Madrasah. Di sana, anak-anak diberikan pengarahan dan penguatan. Mereka diingatkan bahwa latihan harus dilakukan dengan serius, disiplin, dan sungguh-sungguh. Tidak boleh ada yang bermain-main selama latihan, karena membawa nama madrasah adalah sebuah tanggung jawab besar.
Setelah itu, saya mulai menyusun jadwal latihan.
Dua kali latihan berlalu, namun saya mulai menemukan beberapa kendala. Ada seorang anak yang terlihat sangat kaku saat menari, sehingga saya cukup kesulitan membimbingnya agar gerakannya lebih luwes. Sementara itu, ada anak lain yang sulit berkonsentrasi; ketika saya sedang memberikan arahan, ia justru sibuk dengan kegiatannya sendiri. Saya pun menceritakan kendala tersebut kepada Ibu Kepala Madrasah. Beliau kemudian mengumpulkan seluruh anak dan memberikan pengarahan serta motivasi kepada mereka. Alhamdulillah, setelah itu anak-anak mulai menunjukkan perubahan — menjadi lebih fokus, serius, dan sungguh-sungguh dalam mengikuti latihan.
Hari demi hari kami lalui dengan latihan dan perjuangan. Namun, di tengah persiapan tersebut, tiba-tiba Ibu Kepala Madrasah menyampaikan kabar bahwa anak-anak juga akan mengikuti lomba tari di Omar Dian Festival yang akan dilaksanakan pada tanggal 14–17 September 2026. Artinya, anak-anak harus sudah benar-benar siap tampil pada tanggal 12 September.
Sejak saat itu, intensitas latihan semakin meningkat. Kami berlatih hampir setiap hari, bahkan pada hari Minggu pun tetap berlatih. Rasa lelah tentu ada, tetapi kami berusaha mengatasinya demi satu tujuan: memberikan penampilan terbaik untuk madrasah. Di balik semua itu, ada rasa khawatir yang terus menghantui. Seolah ada beban berat di pundak saya. Bagaimana kalau nanti kami tidak menang? Pertanyaan itu sering muncul. Apalagi madrasah kami sebelumnya selalu meraih hasil yang membanggakan, bahkan pernah melaju hingga tingkat nasional. Tentu saja saya ingin mempertahankan prestasi tersebut. Namun, saya berusaha menyingkirkan rasa takut itu. Saya memilih untuk terus berusaha semaksimal mungkin dan mempersiapkan segala sesuatu dengan sebaik-baiknya — mulai dari kostum, properti, tata rias, musik, hingga berbagai keperluan lainnya. Saya ingin agar saat hari perlombaan tiba, tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan.
Akhirnya, hari yang kami tunggu-tunggu pun tiba: 16 September 2026, hari perlombaan.
Saya datang ke sekolah sekitar pukul 06.30 WIB, karena seluruh perlengkapan tari berada di ruangan saya. Anak-anak kemudian membawa semua perlengkapan tersebut ke ruang UKS. Di sanalah kami mulai bersiap. Anak-anak berganti kostum dan mulai dirias. Saya dibantu oleh beberapa rekan guru serta mahasiswa PPL. Kami bekerja sama mempersiapkan semuanya agar penampilan anak-anak berjalan dengan baik. Setelah semua siap, kami pun berangkat menuju lokasi perlombaan.
Sesampainya di sana, saya melakukan daftar ulang dan menyerahkan musik serta sinopsis Tari Kopi kepada panitia. Setelah itu, kami duduk bersama sambil menyaksikan penampilan sekolah-sekolah lain. Satu per satu peserta tampil, hingga akhirnya tibalah giliran kami — nomor urut 4.
Jujur, hati saya mulai tidak tenang. Rasa gugup dan khawatir bercampur menjadi satu. Namun, saya berusaha tetap tenang dan memberi semangat kepada anak-anak agar tetap percaya diri dan memberikan yang terbaik.
Namun, sesuatu yang tidak saya harapkan terjadi. Saat tampil, ada beberapa anak yang melakukan kesalahan. Ada properti yang terjatuh, dan ada pula gerakan yang tidak berjalan seperti saat latihan. Melihat hal itu, hati saya terasa seketika berat. Saya mulai pesimis. Dalam hati saya berkata: “Sepertinya tidak ada harapan untuk menang.” Bahkan untuk meraih juara kedua saja rasanya sulit. Jangankan juara dua, juara tiga pun sepertinya mustahil. Saya hanya bisa menunggu hasil keputusan dewan juri dengan perasaan berkecamuk.
Namun, ternyata cerita belum berakhir.
Keesokan harinya, masih ada beberapa lomba sekaligus pengumuman. Karena saya yakin tidak akan menang, saya sudah tidak memikirkan lagi lomba itu. Saya masuk ke kelas untuk mengajar materi seni tari di ruang digital. Di sana, saya mengajar menggunakan infokus sambil menonton beberapa pertunjukan seni tari khas Aceh. Tiba-tiba, Ibu Koordinator yang sedang menunggu hasil pengumuman di lokasi mengirimkan pesan singkat: “Tarian juara 2, Kak! 🥺🤲”
Sontak saya berteriak, “Alhamdulillah!” Anak-anak terkejut. “Ada apa, Bu?” tanya mereka.
“Tarian kita mendapat juara 2!” Mereka pun ikut bersukacita. “Ibu, ayo kita tonton tarian Kakak-kakak kemarin!” pinta mereka. Akhirnya, kami menonton bersama dengan penuh sukacita.
Saya terus mengucap syukur. Saat tiba di ruang guru, semua orang memberi selamat kepada saya — ternyata mereka pun menyaksikan perjuangan saya selama melatih anak-anak. Mereka berkata: “Tidak ada usaha yang sia-sia.”
Karya : Ratna Dewi, S.Pd
