Oleh: Aliya Jazila (alumni MIN 27 Aceh Besar)
Gemuruh tepuk tangan yang menggema di panggung Piasan Seni yang mengangkat tema ” Melejit Bersama di Era Digital, Menoreh Prestasi Internasional Menuju Generasi Emas”. Sorotan lampu warna-warni menari-nari, menerangi wajah-wajah yang berseri. Hari ini merupakan hari pentas seni yang luar biasa. Saya alumni MIN 27 Aceh Besar angkatan 2016 yang hari ini hadir sebagai penonton.
“Ya ampun, tidak menyangka bisa hadir di acara PINSI 3, setelah beberapa tahun lalu kami yang menguasai panggung dalam acara yang sama yaitu PINSI 1. Saat itu saya masih duduk di bangku kelas IV As Sami’. Kami menampilkan tarian daerah. Dengan mata yang berbinar-binar memandang panggung yang sedang dipenuhi oleh para penari parodi buly yang salah satu diantaranya adalah adikku Arif.
“Terakhir kali aku menari di panggung ini saat pentas seni 1 bulan November tahun 2019,” gumam ku dalam hati sambil tersenyum mengenang masa lalu. Saat itu ibu Nurafni sebagai wali kelas kami, kelas IV As Sami’.
Panggung Piasan Seni saat itu menjadi saksi bisu perjalanan kami. Dulu, di panggung yang sama, kami pernah menorehkan kenangan indah. Ada yang menari, bernyanyi, membaca puisi, bahkan ada yang berakting dalam drama musikal. Kini, setelah enam tahun berlalu, kami kembali ke panggung itu, tapi sayang bukan lagi sebagai persembahan penampilan, melainkan sebagai penonton yang larut dalam nostalgia. Masa-masa yang tak kan pernah terulang.
Pertunjukan demi pertunjukan berlalu, tetapi pikiran ku melayang ke masa lalu. Mengenang masa-masa latihan yang penuh canda tawa, persiapan kostum yang memakan waktu berhari-hari, dan rasa gugup yang menyelimuti sebelum naik panggung.
Kenangan itu begitu segar dalam ingatan, seolah baru kemarin terjadi. Mengenang guru-guru yang telah berjasa membimbing kami, teman-teman yang selalu mendukung kami, dan masa-masa kecil yang penuh warna. Panggung itu bukan hanya tempat pertunjukan seni, tetapi juga panggung kenangan yang akan selalu ku ingat.
