WhatsApp-Image-2026-03-16-at-08.23.37
”Dinding yang Sesak, Prestasi yang Merebak”

Oleh : Wilda Num Nafsiah, S.IP

Matahari di Aceh Besar baru saja meninggi ketika Ibu Kepala Madrasah mengumpulkan kami semua di ruang guru. Di tangannya, sebuah surat dinas berwarna putih bersih menjadi pemicu detak jantung yang lebih kencang dari biasanya. Lomba Perpustakaan Tingkat SD/MI se-Aceh Besar akan dimulai tepat empat belas hari lagi.

Bagi sekolah dengan jumlah siswa mencapai hampir 1.000 anak seperti MIN 27 Aceh Besar, tantangan ini bukan sekadar urusan memenangkan piala. Ini adalah pembuktian. Dua minggu adalah waktu yang sangat sempit, namun di bawah komando Ibu Kepala yang visioner, kami tidak diizinkan untuk menyerah sebelum berperang.

“Kita tidak punya lahan yang luas, tapi kita punya kemauan yang besar,” tegas beliau. Sejak hari itu, wajah madrasah berubah total. Pagi hingga malam, suasana sekolah tidak pernah sunyi. Ibu Kepala memimpin langsung pengadaan infrastruktur. Beliau memastikan setiap sudut perpustakaan yang kecil itu mendapatkan sentuhan terbaik. Rak-rak kayu yang mulai kusam dicat ulang, lampu-lampu diganti dengan yang lebih terang, dan koleksi buku ditata sedemikian rupa agar tampak mengundang bagi mata kecil para siswa.

Memasuki minggu kedua, fokus beralih pada kelengkapan administrasi. Ini adalah bagian yang paling melelahkan namun krusial. Ribuan buku harus dipastikan tercatat dalam buku induk, sistem sirkulasi harus berjalan otomatis, dan laporan kegiatan literasi tiga tahun terakhir harus tersusun rapi.

Ibu Kepala Madrasah tidak hanya memberi perintah, beliau turun tangan langsung. Beliau ikut memilah kartu buku, memeriksa klasifikasi DDC (Dewey Decimal Classification), hingga memastikan pojok baca ikut berbenah. Kami semua—guru, pustakawan, bahkan penjaga sekolah—larut dalam kesibukan. Kami sering pulang saat langit sudah berwarna jingga pekat, dengan tangan yang menghitam karena debu buku tua, namun hati yang penuh dengan harapan.

“Bu, apakah ruangan kita tidak akan jadi masalah?” tanya saya suatu sore saat kami sedang menyusun laporan.

Beliau terdiam sejenak, memandang ruangan perpustakaan yang hanya berukuran beberapa puluh meter persegi itu. “Ruangan ini memang sempit, tapi dedikasi kita tidak boleh sempit. Kita tata semaksimal mungkin agar juri melihat bahwa di ruang sekecil ini, ada 1.000 mimpi anak Aceh yang sedang dirawat.”

Hari yang dinanti tiba. Tim penilai dari tingkat kabupaten datang dengan buku catatan dan pandangan yang tajam. Saat mereka melangkah masuk ke dalam perpustakaan, kami semua menahan napas. Ruangan itu terasa begitu padat. Meski sudah ditata dengan sangat rapi, keterbatasan ruang tidak bisa ditutupi. Ketika lima orang juri masuk bersamaan, sisa ruang untuk bergerak menjadi sangat terbatas.

Namun, kejutan terjadi saat penilaian administrasi dimulai. Juri tampak terkesan dengan ketertiban data kami. “Luar biasa, administrasinya sangat rapi untuk sekolah dengan siswa sebanyak ini,” puji salah satu juri. Mereka melihat bagaimana setiap jengkal ruang dimanfaatkan dengan cerdas. Ada pojok baca kreatif, dinding informasi yang padat ilmu, dan sistem pinjam-meminjam yang modern.

Hanya satu hal yang menjadi catatan panjang mereka Luas Ruang. Mereka menghitung rasio luas bangunan dengan jumlah siswa. Untuk seribu siswa, perpustakaan kami seharusnya adalah sebuah gedung dua lantai yang megah, bukan ruangan yang terselip di antara deretan kelas.

Saat pengumuman tiba, nama MIN 27 Aceh Besar dipanggil sebagai Juara 2. Gemuruh tepuk tangan pecah, namun ada rasa haru yang mendalam di mata saya sendiri sebagai seorang pustakawan. Kami tahu, dari segi pelayanan, program kerja, dan administrasi, kami adalah yang terbaik. Namun, standar perpustakaan nasional memang menuntut ruang yang representatif.

Kami terbentur pada kenyataan fisik, sekolah kami tidak lagi memiliki lahan kosong. Setiap meter tanah sudah menjadi ruang kelas dan lapangan. Keinginan untuk membangun gedung perpustakaan baru yang luas seringkali hanya berakhir pada gambar di atas kertas karena tidak ada lahan yang tersedia untuk meletakkan pondasinya.

Piala indah itu kini  teletak manis di lemari kaca perpustakaan. Juara 2 se-Aceh Besar bukanlah prestasi kecil, apalagi dengan segala keterbatasan yang ada. Namun, piala itu juga menjadi pengingat yang bisu tentang mimpi yang belum tuntas.

Harapan kami tetap sama kami ingin memenuhi standar perpustakaan yang sesungguhnya. Kami bermimpi tentang sebuah ruang di mana seratus anak bisa membaca bersamaan tanpa harus berhimpitan. Kami bermimpi tentang sebuah literasi yang tidak terhalang oleh dinding-dinding yang sempit.

Kemenangan ini adalah sebuah pesan bagi pihak luar MIN 27 Aceh Besar punya semangat yang melampaui kapasitas gedungnya. Jika di ruang sempit saja kami bisa menjadi juara dua, bayangkan apa yang bisa kami lakukan jika kami memiliki ruang yang memadai. Kami akan terus menunggu, bekerja, dan berdoa, hingga suatu saat nanti, gedung perpustakaan impian itu tegak berdiri, seluas harapan anak didik kami.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait

Legenda Danau Laut Tawar

Sumber Youtube MIN 27 Aceh Besar Dari video ini menceritakan tetntang kisah Danau laut Tawar dalam bentuk story telling. Story telling ini dibawakan oleh Nurul Izzah siswi MIN 27 Aceh Besar pada ajang lomba Marssal 8 MTsN Model Banda Aceh. Dalam story telling ini menceritakan pada zaman dahulu di tanah Takengon, Aceh hiduplah seorang putri

Baca selengkapnya...

Sang Inspirator

    Menurut Peter F.Drucker, “Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya”. Berbicara mengenai pemimpin … sosok kepala Madrasah MIN 27 Aceh Besar sudah malang melintang dalam dunia pendidikan, sudah banyak sekolah yang dibawah kepemimpinan beliau berhasil menjadi sekolah favorit. Hal tersebut tidaj

Baca selengkapnya...