1000448739
DUNIA DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

DUNIA DIGITAL DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA

Reza Sukma Dewi,S.Pd

(Tim Minat Tabloit MIN 27 Aceh Besar) 

Perkembangan teknologi yang pesat telah membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan. Pembelajaran yang dahulu hanya berlangsung di ruang kelas kini bertransformasi menjadi proses belajar yang memanfaatkan berbagai perangkat digital. Dunia pendidikan memasuki era baru yang disebut era digital learning atau pembelajaran digital. Dalam konteks ini, guru bukan lagi satu-satunya sumber pengetahuan, melainkan menjadi fasilitator yang memandu peserta didik dalam mencari, memahami, dan menerapkan informasi yang tersebar luas di dunia maya.
Sebagai seorang guru Bahasa Indonesia di kelas 5 Madrasah, saya merasakan betul perubahan besar yang terjadi dalam dunia pendidikan ini. Dahulu, saya hanya mengandalkan papan tulis, buku paket, dan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk menyampaikan materi. Namun kini, saya harus beradaptasi serta memperluas kreativitas saya dengan berbagai platform digital seperti Google Classroom, Zoom Meeting, Google form, Microsoft Office dan aplikasi interaktif seperti Quizizz, Zep Quiz , Canva, Powerpoint Interactive dan masih banyak lagi. Perubahan ini tidak hanya menuntut kemampuan teknologi, tetapi juga keahlian dalam menyusun pembelajaran yang tetap bermakna dan menyenangkan bagi anak-anak tingkat SD/MI.
Dalam jurnal Abu Sakti yang berjudul “Meningkatkan Pembelajaran Melalui Teknologi Digital,” Jurnal Pendidikan Digital, Vol. 2, No. 2 (2023) : 217 meneliti bahwa penggunaan media digital memungkinkan siswa untuk mengembangkan keterampilan kolaborasi dan komunikasi. Melalui platform pembelajaran online dan alat komunikasi yang terintegrasi, siswa dapat bekerja sama dalam kelompok, berdiskusi, dan berbagi ide dengan sesama siswa. Ini mendorong siswa untuk menghargai pendapat orang ain, bekerja secara tim, dan mengembangkan keterampilan komunikasi yang efektif.
Pengalaman saya mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 5 digital menjadi salah satu perjalanan paling berkesan dalam karier saya sebagai pendidik. Saya belajar bahwa teknologi bukan pengganti peran guru, tetapi alat untuk memperkaya pengalaman belajar peserta didik. Dalam esai ini, saya akan berbagi kisah, tantangan, strategi saya selama mengajar Bahasa Indonesia di Kelas digital. Saya masih ingat betul saat pertama kali menerapkan pembelajaran digital di kelas 5. Awalnya, saya merasa canggung dan gugup. Banyak pertanyaan yang muncul di benak saya: apakah peserta didik saya bisa mengajarkan pembelajaran digital? Bagaimana saya bisa memastikan mereka memahami materi? dan yang paling penting, bagaimana menjaga semangat belajar mereka agar tidak menurun? Ini menjadi tantang besar bagi saya.
Namun kenyataannya tidak semudah yang saya bayangkan, hampir seluruh peserta didik masih belum terbiasa tentang dunia digital, bahkan ada yang kesulitan membuka laptop, memastikan jaringan terhubung ke wifi dan masih belum bisa mengoperasikan aplikasi yang ada dalam laptop/Tablet yang mereka punya. Saya sempat merasa frustasi karena waktu pembelajaran banyak terbuang untuk membantu peserta didik memahami cara menggunakan laptop dan aplikasi.
Meski begitu, saya tidak menyerah. Saya sadar bahwa perubahan memang membutuhkan waktu. Saya mulai menyesuaikan gaya mengajar saya dengan kondisi peserta didik. Setiap peserta didik memiliki gaya belajar yang bergam serta tingkat kongnitif yang berbeda-beda. Alih-alih memaksakan metode ceramah seperti di kelas biasa, saya mencoba membuat pembelajaran lebih interaktif dengan memanfaatkan fitur canva, Quiziz untuk membuat suasana pembelajaran menjadi lebih aktif dan menyenangkan. Perlahan-lahan siswa mulai terbiasa, dan membuat saya semakin percaya diri.
Selama proses mengajar di kelas digital, saya menghadapi berbagai tantangan yang cukup kompleks. Tantangan pertama adalah perbedaan kemampuan peserta didik tentang pemahaman teknologi, tidak semua anak memiliki perangkat yang memadai atau dukungan orang tua yang memahami penggunaan teknologi. Ada peserta didik yang belajar di kelas menggunakan laptop orang tua sementara yang lain menggunakan laptop pribadi, ada juga yang sama sekali tidak bisa mengetik, masih sangat awam terhadap pembelajaran digital sehingga harus banyak belajar membuka laptop, perbedaan ini mempengaruhi kecepatan mereka dalam mengerjakan tugas dan berpartisipasi dalam kegiatan belajar.
Tantangan kedua adalah menjaga fokus dan disiplin belajar siswa. Usia peserta didik kelas 5 tergolong masih sangat labil, sehingga mereka mudah teralihkan oleh hal lain yang di sekitar, terutama ketika belajar dikelas, kadang kala saya sedang menjelaskan materi, tetapi tiba-tiba salah satu peserta didik diam-diam membuka aplikasi lain di perangkatnya. Saya menyadari bahwa motivasi belajar peserta didik dalam pembelajaran digital tidak bisa dipaksakan, dunia mereka penuh dengan warna, rasa ingin tahu yang mereka punya juga begitu besar, hingga membuat mereka terobsesi untuk membukanya. Disinilah saya berperan harus membangun pendekatan yang menyenangkan. Saya juga harus lebih sering memonitori dan memberi wejangan kepada mereka agar peserta didik tidak menyalah gunakan waktunya saat proses pembelajaran digital baik di Madrasah maupun di rumah.
Tantangan ketiga adalah menilai hasil belajar secara objektif. Dalam pembelajaran dikelas saya tidak bisa sepenuhnya memastikan bahwa peserta didik mengerjakan tugasnya sendiri tanpa bantuan orang tua atau internet. Karena itu, saya berusaha merancang penilaian yang lebih beragam tidak hanya berbentuk pilihan ganda, tetapi juga proyek dan presentasi. Ketika pembelajaran bahasa indonesia peserta didik akan lebih banyak membuat karya dalam bentuk canva, mereka dapat menciptakan puisi, bahkan mendesain prodak sendiri dengan kreativitas yang mereka punya, selain itu kelancaran dalam mengetik dengan materi mendeskripsikan diri, teman bahkan orang tua juga berhasil mereka lakukan. Untuk mengatasi tantangan tersebut, saya mulai berinovasi dalam menyusun strategi pembelajaran dalam materi Bahasa Indonesia di kelas digital. Saya menggunakan berbagai media interaktif agar siswa lebih aktif dan termotivasi.
Salah satu strategi yang paling berhasil adalah menggunakan permainan edukatif digital. Saat mengajarkan materi tentang jenis-jenis teks fiksi dan nonfiksi, serta wawancara saya menggunakan Zep Quiz untuk membuat kuis. Peserta didik sangat antusias karena mereka bisa berlomba secara langsung dengan teman-teman sekelasnya, sehingga bisa menjawab soal sambil bermain permainan, Lalu saya juga menggunakan Canva untuk mengajarkan peserta didik membuat poster digital melalui tugas ini, saya melihat sisi kreatif mereka yang luar biasa.Selain itu, saya memanfaatkan YouTube dan video pendek sebagai media belajar. Misalnya, saat membahas materi wawancara saya mengizinkan peserta didik untuk membuka youtube menemukan isi teks video wawancara. Kemudian meminta peserta didik mencatat hasil wawancara dengan pertanyaan 5W+1H. Media ini sangat membantu peserta didik untuk menggali informasi dengan cara menonton video pembelajaran. Kegiatan ini tak lepas dari pantauan guru di dalam kelas. Selain itu Platfrom buku digital yang di miliki oleh Madrasah juga sangat membantu siswa memahami pelajaran dengan jelas.
Dalam setiap pembelajaran, saya selalu menekankan pentingnya berbahasa Indonesia yang baik dan benar, baik secara lisan maupun tulisan. Saya ajak siswa memahami bahwa Bahasa Indonesia adalah identitas bangsa yang harus dijaga. Walau pembelajaran dilakukan secara digital, nilai-nilai kebangsaan dan kecintaan terhadap bahasa sendiri tetap menjadi inti utama.
Respons peserta didik terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia digital sangat beragam. Pada awalnya, banyak yang merasa kesulitan karena belum terbiasa. Namun seiring waktu, mereka mulai menikmati proses belajar yang lebih fleksibel dan menarik. Beberapa peserta didik bahkan menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam kemampuan menulis dan berbicara. Saya terharu ketika salah satu peserta diidk saya, yang awalnya pemalu dan jarang berbicara di kelas, kini ia telah percaya diri, sudah bisa menghasilkan karya puisi, mengetik sudah mulai lancar. Dahulu dia adalah peserta didik yang tidak aktif dikelas 4 ia merasa tertinggal dari teman-temannya kini ia banyak sekali menunjukkan perubahan, mulai ceria, lebih aktif dan bahkan berani mencoba.
Selain itu, komunikasi dengan orang tua juga menjadi lebih intens. Banyak orang tua yang awalnya bingung, kini mulai aktif mendampingi anaknya belajar. Orang tua juga dapat memantau peserta didik di akun yang sudah dibagikan, Kolaborasi antara guru peserta didik dan orang tau akhirnya membuat proses belajar menjadi lebih bermakna. Mengajar di kelas 5 digital membuat saya banyak belajar bukan hanya tentang teknologi, melainkan arti sebenarnya peran menjadi seorang guru. Saya belajar bahwa menjadi guru di era digital tidak cukup hanya menguasai materi pelajaran, tetapi juga harus mampu beradaptasi, berinovasi, dan berempati.
Saya belajar untuk lebih sabar menghadapi berbagai kendala teknis. Ada kalanya saya harus mengulang pelajaran karena koneksi terputus, atau membantu satu per satu peserta didik yang kesulitan login ke akun mereka. Namun di sisi lain, saya merasa bangga karena bisa menjadi bagian dari perubahan besar dalam dunia pendidikan. Sebagai guru Bahasa Indonesia, saya juga merasa tertantang untuk terus menanamkan nilai-nilai karakter melalui bahasa. Saya selalu menekankan pentingnya jujur dalam mengerjakan tugas, sopan dalam berkomunikasi di ruang digital, dan menghargai pendapat teman. Menurut saya, inilah tugas pendidik membentuk karakter peserta didik bukan sekadar mentransfer pengetahuan.
Pengalaman saya mengajarkan pelajaran Bahasa Indonesia di kelas 5 digital merupakan perjalanan yang penuh makna. Di balik tantangan teknologi, jaringan, dan adaptasi, saya menemukan semangat baru dalam mendidik generasi muda yang lahir di era digital. Saya belajar bahwa pembelajaran digital tidak akan menggantikan peran guru, tetapi justru memperluas jangkauan dan kreativitas dalam mengajar. Melalui pembelajaran digital, peserta didik dapat belajar lebih fleksibel, mandiri, dan kreatif. Sementara guru dapat berinovasi dalam menciptakan kegiatan belajar yang menarik dan relevan dengan dunia mereka. Yang terpenting, nilai-nilai luhur Bahasa Indonesia tetap bisa ditanamkan cinta terhadap bahasa sendiri, sopan santun dalam berkomunikasi, serta kemampuan berpikir kritis dan berempati.
Kini, setiap kali saya membuka laptop dan memulai kelas digital bersama peserta didik di kelas 5, saya selalu tersenyum mereka sudah mampu melakukan apa yang saya instruksikan, saya bersyukur bisa menjadi bagian dari proses pembelajarannya dalam dunia digital. Saya sadar bahwa saya bukan hanya sedang mengajar Bahasa Indonesia, tetapi juga sedang membentuk generasi yang mampu berbahasa, berpikir, dan berperilaku bijak di dunia digital. Bagi saya, itulah kebahagiaan terbesar sebagai seorang guru.

Karya ini telah terbit pada buku yang berjudul “KAPABILITAS PERSONAL”

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait

Legenda Danau Laut Tawar

Sumber Youtube MIN 27 Aceh Besar Dari video ini menceritakan tetntang kisah Danau laut Tawar dalam bentuk story telling. Story telling ini dibawakan oleh Nurul Izzah siswi MIN 27 Aceh Besar pada ajang lomba Marssal 8 MTsN Model Banda Aceh. Dalam story telling ini menceritakan pada zaman dahulu di tanah Takengon, Aceh hiduplah seorang putri

Baca selengkapnya...

Sang Inspirator

    Menurut Peter F.Drucker, “Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya”. Berbicara mengenai pemimpin … sosok kepala Madrasah MIN 27 Aceh Besar sudah malang melintang dalam dunia pendidikan, sudah banyak sekolah yang dibawah kepemimpinan beliau berhasil menjadi sekolah favorit. Hal tersebut tidaj

Baca selengkapnya...