IMG-20260114-WA0007-1
Esai “Gebrakan MIN 27 Aceh Besar Melahirkan Generasi Pekarya”

 

Oleh: Sri Hastuti,S.Pd.I (Persgu MIN 27 Aceh Besar)

 

​Literasi bukan sekedar kecakapan mengeja kata atau merangkai kalimat. Ia adalah jantung dari peradaban. Di tengah gempuran arus digitalisasi yang seringkali membuat generasi muda terjebak sebagai konsumen konten pasif, MIN 27 Aceh Besar mengambil langkah berani. Sebagai Madrasah Ibtidaiyah yang menyandang predikat Sekolah Aktif Literasi Nasional, lembaga ini tidak hanya berfokus pada hasil belajar kognitif, tetapi juga berkomitmen penuh dalam Gerakan Sekolah Menulis Buku (GSMB) yang sudah berjalan selama 4 Tahun. ​Gerakan Sekolah Menulis Buku di MIN 27 Aceh Besar bukanlah program tempelan. Ia adalah wadah bagi siswa dan guru untuk menuangkan gagasan, imajinasi, dan kegelisahan ke dalam bentuk tulisan yang abadi. Mengapa menulis menjadi sangat krusial? Karena sebuah karya adalah bukti fisik dari proses berpikir yang sistematis.

​Melalui program ini, madrasah telah berhasil memfasilitasi lahirnya berbagai antologi puisi, cerpen, pantun hingga esai karya siswa, TENDIK dan juga PENDIK. Setiap buku yang diterbitkan menjadi Aset kebanggaan bagi para warga MIN 27 Aceh Besar dan juga para wali murid. Hal ini membuktikan bahwa usia sekolah dasar bukanlah penghalang untuk menjadi seorang penulis. Di koridor MIN 27 Aceh Besar, literasi tidak lagi dianggap sebagai beban pelajaran, melainkan sebuah selebrasi kreativitas.

​Tujuan yang lebih mendalam dari gerakan ini bukanlah sekadar tumpukan buku di rak perpustakaan maupun pojok baca sekolah, melainkan lahirnya sosok pekarya. Menghasilkan “karya” bisa jadi sebuah pencapaian sesaat, namun menjadi “pekarya” adalah tentang identitas dan konsistensi. ​Dengan menjadi pekarya, peserta didik MIN 27 Aceh Besar dilatih untuk memiliki ​keberanian berpendapat. Menulis melatih anak untuk menyuarakan pikiran dan isi hati mereka dengan santun dan terstruktur. Melalui cerita pengalaman pribadi, puisi mereka belajar melihat dunia dari berbagai sudut pandang.

Proses menyelesaikan naskah menanamkan nilai juang yang tinggi.

​Pekarya yang lahir dari madrasah MIN 27 Aceh Besar adalah individu yang memiliki daya kritis terhadap informasi yang berkembang disekitarnya. Mereka tidak hanya membaca dunia, tetapi juga berusaha mewarnai dunia dengan pemikiran mereka sendiri. ​Status sebagai Sekolah Aktif Literasi Nasional yang disandang oleh MIN 27 Aceh Besar membawa tanggung jawab moral yang besar. Prestasi ini merupakan pengakuan atas ekosistem literasi yang telah dibangun dengan baik, mulai dari dukungan kepala madrasah, dedikasi guru pembimbing, hingga antusiasme orang tua siswa.

​Gerakan ini menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Aceh Besar dan sekitarnya. Bahwa dari sebuah madrasah, bisa muncul tunas-tunas penulis yang kelak akan mengharumkan nama daerah di kancah nasional. Literasi di MIN 27 Aceh Besar telah bertransformasi dari sebuah gerakan sekolah menjadi sebuah budaya kehidupan. ​Gerakan Sekolah Menulis Buku di MIN 27 Aceh Besar adalah investasi jangka panjang. Buku-buku yang dihasilkan hari ini mungkin akan menjadi saksi sejarah di masa depan tentang bagaimana sebuah madrasah mendidik anak-anaknya untuk berani bermimpi dan berkarya. Dengan terus melahirkan pekarya, MIN 27 Aceh Besar sedang memastikan bahwa suara generasi masa depan Aceh akan tetap terdengar, terkenang dan abadi dalam lembaran sejarah bangsa.

 

​Melalui program ini, madrasah telah berhasil memfasilitasi lahirnya berbagai antologi puisi, cerpen, pantun hingga esai karya siswa, TENDIK dan juga PENDIK. Setiap buku yang diterbitkan menjadi Aset kebanggaan bagi para warga MIN 27 Aceh Besar dan juga para wali murid. Hal ini membuktikan bahwa usia sekolah dasar bukanlah penghalang untuk menjadi seorang penulis. Di koridor MIN 27 Aceh Besar, literasi tidak lagi dianggap sebagai beban pelajaran, melainkan sebuah selebrasi kreativitas.

​Tujuan yang lebih mendalam dari gerakan ini bukanlah sekadar tumpukan buku di rak perpustakaan maupun pojok baca sekolah, melainkan lahirnya sosok pekarya. Menghasilkan “karya” bisa jadi sebuah pencapaian sesaat, namun menjadi “pekarya” adalah tentang identitas dan konsistensi. ​Dengan menjadi pekarya, peserta didik MIN 27 Aceh Besar dilatih untuk memiliki ​keberanian berpendapat. Menulis melatih anak untuk menyuarakan pikiran dan isi hati mereka dengan santun dan terstruktur. Melalui cerita pengalaman pribadi, puisi mereka belajar melihat dunia dari berbagai sudut pandang.

Proses menyelesaikan naskah menanamkan nilai juang yang tinggi.
​Pekarya yang lahir dari madrasah MIN 27 Aceh Besar adalah individu yang memiliki daya kritis terhadap informasi yang berkembang disekitarnya. Mereka tidak hanya membaca dunia, tetapi juga berusaha mewarnai dunia dengan pemikiran mereka sendiri. ​Status sebagai Sekolah Aktif Literasi Nasional yang disandang oleh MIN 27 Aceh Besar membawa tanggung jawab moral yang besar. Prestasi ini merupakan pengakuan atas ekosistem literasi yang telah dibangun dengan baik, mulai dari dukungan kepala madrasah, dedikasi guru pembimbing, hingga antusiasme orang tua siswa.

​Gerakan ini menjadi inspirasi bagi sekolah-sekolah lain di Aceh Besar dan sekitarnya. Bahwa dari sebuah madrasah, bisa muncul tunas-tunas penulis yang kelak akan mengharumkan nama daerah di kancah nasional. Literasi di MIN 27 Aceh Besar telah bertransformasi dari sebuah gerakan sekolah menjadi sebuah budaya kehidupan. ​Gerakan Sekolah Menulis Buku di MIN 27 Aceh Besar adalah investasi jangka panjang. Buku-buku yang dihasilkan hari ini mungkin akan menjadi saksi sejarah di masa depan tentang bagaimana sebuah madrasah mendidik anak-anaknya untuk berani bermimpi dan berkarya. Dengan terus melahirkan pekarya, MIN 27 Aceh Besar sedang memastikan bahwa suara generasi masa depan Aceh akan tetap terdengar, terkenang dan abadi dalam lembaran sejarah bangsa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait

Legenda Danau Laut Tawar

Sumber Youtube MIN 27 Aceh Besar Dari video ini menceritakan tetntang kisah Danau laut Tawar dalam bentuk story telling. Story telling ini dibawakan oleh Nurul Izzah siswi MIN 27 Aceh Besar pada ajang lomba Marssal 8 MTsN Model Banda Aceh. Dalam story telling ini menceritakan pada zaman dahulu di tanah Takengon, Aceh hiduplah seorang putri

Baca selengkapnya...

Sang Inspirator

    Menurut Peter F.Drucker, “Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya”. Berbicara mengenai pemimpin … sosok kepala Madrasah MIN 27 Aceh Besar sudah malang melintang dalam dunia pendidikan, sudah banyak sekolah yang dibawah kepemimpinan beliau berhasil menjadi sekolah favorit. Hal tersebut tidaj

Baca selengkapnya...