WhatsApp-Image-2026-02-28-at-10.02.50
Essay: INTERNALISASI NILAI AL-QUR’AN P MELALUI PROGRAM LITERASI KREATIF

Oleh: Maisyarah S, S.Pd.I., M.Pd.

Abstrak
Pendidikan anak usia dini (PAUD) merupakan fondasi krusial dalam pembentukan karakter. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), penanaman nilai-nilai Al-Qur’an dan Hadis menjadi prioritas utama. Namun, tantangan di era digital menuntut metode pembelajaran yang tidak hanya berfokus pada hafalan (kognitif), tetapi juga pada pemahaman (afektif) dan internalisasi (psikomotorik). Esai ini membahas implementasi program-program inovatif di Madrasah Ibtidaiyah yang bertujuan untuk menginternalisasikan nilai Al-Qur’an dan Hadis. Melalui pendekatan kualitatif deskriptif yang didasarkan pada studi kasus, esai ini menyoroti tiga program utama: “Jumat Berkah” sebagai program habituasi, “Kelas Tahfizh” sebagai program pendalaman, dan “Puitisasi Al-Qur’an” sebagai program literasi kreatif. Hasilnya menunjukkan bahwa integrasi antara pembiasaan spiritual, pendalaman hafalan, dan literasi kreatif terbukti efektif dalam meningkatkan antusiasme, kepercayaan diri, dan pemaknaan peserta didik terhadap Al-Qur’an, sekaligus menjawab tantangan distraksi digital.
Kata Kunci: Internalisasi Al-Qur’an, Pendidikan Anak Usia Dini, Literasi Kreatif, Puitisasi Al-Qur’an
1. Pendahuluan
Pendidikan anak usia dini (PAUD) diakui secara luas sebagai periode emas (golden age) dalam perkembangan individu. Pada masa ini, potensi kecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia dapat dikembangkan secara optimal. Dalam konteks Pendidikan Agama Islam (PAI), periode ini merupakan momentum fundamental untuk menanamkan Al-Qur’an dan Hadis sebagai pedoman hidup. Al-Qur’an sendiri memberikan teladan mengenai pentingnya pendidikan sejak dini, sebagaimana termaktub dalam nasihat Luqman kepada putranya yang diajarkan nilai-nilai tauhid dan akhlak (Q.S. Luqman: 13-19).
Pentingnya penanaman Al-Qur’an sejak dini ini selaras dengan sabda Nabi Muhammad SAW: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya” (H.R. Bukhari). Hadis ini mengisyaratkan bahwa proses belajar-mengajar Al-Qur’an adalah sebuah keutamaan yang harus dimulai sedini mungkin. Namun, dalam praktiknya di tingkat Madrasah Ibtidaiyah (MI), khususnya di kelas rendah (1-3), pengajaran Al-Qur’an Hadis menghadapi tantangan kompleks. Peserta didik dihadapkan pada pengenalan huruf hijaiyah, ilmu tajwid, hafalan surah-surah pendek, hingga pemahaman makna hadis-hadis pilihan (Arif, 2021).
Tantangan tersebut diperberat oleh era digital, di mana distraksi dari gawai (gadget) sering kali mengurangi fokus dan waktu muraja’ah (mengulang hafalan) peserta didik. Oleh karena itu, diperlukan sebuah ekosistem pendidikan yang tidak hanya mengandalkan pembelajaran klasikal, tetapi juga program-program penunjang yang inovatif. Esai ini bertujuan untuk memaparkan dan menganalisis efektivitas program-program literasi keagamaan di sebuah MI sebagai upaya internalisasi nilai Al-Qur’an dan Hadis pada anak usia dini, dengan fokus khusus pada program inovatif “Puitisasi Al-Qur’an”.
2. Metode Pembelajaran dan Internalisasi Nilai
Internalisasi nilai adalah proses di mana nilai-nilai eksternal (ajaran Al-Qur’an dan Hadis) diserap dan menjadi bagian dari sistem nilai internal individu, yang kemudian termanifestasi dalam perilaku (Hidayat & Sya’ban, 2022). Untuk mencapai hal ini di tingkat MI, diperlukan pendekatan holistik yang mencakup tiga pilar utama: habituasi, pendalaman, dan kreativitas.
2.1. Habituasi Spiritual melalui “Jumat Berkah”
Program pertama adalah pembiasaan (habituasi) yang dirancang untuk menciptakan kultur religius di lingkungan madrasah. Program ini diwujudkan dalam kegiatan “Jumat Berkah”, di mana seluruh warga madrasah berkumpul untuk membaca Surah Yasin dan Asmaul Husna secara kolektif. Kegiatan ini bukan hanya bertujuan untuk pembiasaan spiritual, tetapi juga berfungsi sebagai wahana penjaringan bakat dan pengembangan mental.
Setelah sesi spiritual, peserta didik diberi ruang untuk menampilkan berbagai kemampuan literasi keagamaan, seperti tilawah, tahfizh, shalawat, pidato, hingga nasyid. Ajang ekspresi ini secara signifikan membangun rasa percaya diri peserta didik untuk tampil di depan umum, yang merupakan modal penting untuk mengikuti kompetisi di luar madrasah.
2.2. Pendalaman Materi melalui “Kelas Tahfizh”
Pilar kedua adalah pendalaman, yang difokuskan untuk mengatasi tantangan distraksi digital. Madrasah menyelenggarakan “Kelas Tahfizh” sebagai kegiatan ekstrakurikuler di luar jam sekolah reguler. Program ini dirancang untuk menyediakan waktu terstruktur bagi peserta didik dalam menambah dan memuraja’ah hafalan mereka, sehingga waktu luang mereka terisi dengan aktivitas yang produktif.
Program ini bersifat sukarela, menjaring peserta didik yang memiliki minat tinggi dalam menghafal Al-Qur’an. Keberhasilan program ini terukur secara konkret, di mana dalam beberapa bulan implementasinya, sejumlah peserta didik telah berhasil menyelesaikan tasmi’ (memperdengarkan hafalan) Juz 30 secara bil ghaib (tanpa melihat teks). Proses tasmi’ ini disaksikan langsung oleh orang tua dan disiarkan melalui media sosial madrasah, memberikan apresiasi dan motivasi yang kuat bagi peserta didik lainnya.
3. Inovasi “Puitisasi Al-Qur’an” sebagai Program Literasi Kreatif
Pilar ketiga, sekaligus inovasi utama, adalah program literasi kreatif yang disebut “Puitisasi Al-Qur’an”. Program ini dilaksanakan sebagai bagian dari kegiatan ekstrakurikuler Literasi Perpustakaan dan dilombakan secara berkala.
3.1. Definisi dan Konsep Puitisasi
Puitisasi Al-Qur’an adalah sebuah metode seni-literasi yang bertujuan mengubah terjemahan ayat-ayat Al-Qur’an menjadi bentuk karya sastra, seperti puisi atau prosa puitis, dengan tetap mempertahankan esensi makna dan pesan aslinya. Dalam program ini, peserta didik dibebaskan memilih surah atau ayat, menelaah terjemahannya, dan kemudian mentransformasikannya ke dalam bahasa puitis personal.

3.2. Nilai Pedagogis Puitisasi Al-Qur’an
Metode ini memiliki nilai pedagogis yang tinggi karena melampaui sekadar hafalan. Jika tahfizh berfokus pada aspek kognitif-mnemonik (daya ingat), puitisasi menjembatani aspek kognitif (pemahaman makna terjemahan) dengan aspek afektif (merasakan keindahan bahasa dan kedalaman makna) (Rahman, 2020).
Peserta didik tidak hanya dituntut untuk menghafal, tetapi untuk merenung dan meresapi makna ayat. Proses kreatif ini membantu internalisasi nilai-nilai Al-Qur’an dengan cara yang lebih mendalam, personal, dan menyenangkan. Saat peserta didik menampilkan hasil puitisasi mereka dalam lomba, terjadi pula pengembangan keterampilan psikomotorik (ekspresi dan deklamasi). Antusiasme tinggi yang ditunjukkan peserta didik dalam program ini mengindikasikan bahwa pendekatan sastra dapat menjadi salah satu strategi efektif untuk mendekatkan anak usia dini dengan Al-Qur’an.
4. Simpulan dan Rekomendasi
Penanaman nilai Al-Qur’an dan Hadis pada anak usia dini di era digital tidak cukup hanya dengan metode konvensional yang berorientasi pada hafalan. Diperlukan sebuah ekosistem pendidikan yang holistik dan terintegrasi. Implementasi program “Jumat Berkah” (habituasi), “Kelas Tahfizh” (pendalaman), dan “Puitisasi Al-Qur’an” (literasi kreatif) di Madrasah Ibtidaiyah menunjukkan sebuah model yang efektif.
Program-program ini secara sinergis berhasil memotivasi peserta didik, membangun kepercayaan diri, dan yang terpenting, menggeser fokus pembelajaran dari sekadar mengetahui Al-Qur’an menjadi memahami dan merasakan keindahan maknanya. Sebagai pendidik, penciptaan metode-metode inovatif yang relevan dengan dunia anak (seperti sastra dan seni) harus terus dikembangkan agar Al-Qur’an dan Hadis dapat terinternalisasi secara utuh dan menjadi “teman setia” dalam kehidupan mereka.

Karya ini telah terbit pada buku yang berjudul “KAPABILITAS PERSONAL”

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait

Legenda Danau Laut Tawar

Sumber Youtube MIN 27 Aceh Besar Dari video ini menceritakan tetntang kisah Danau laut Tawar dalam bentuk story telling. Story telling ini dibawakan oleh Nurul Izzah siswi MIN 27 Aceh Besar pada ajang lomba Marssal 8 MTsN Model Banda Aceh. Dalam story telling ini menceritakan pada zaman dahulu di tanah Takengon, Aceh hiduplah seorang putri

Baca selengkapnya...

Sang Inspirator

    Menurut Peter F.Drucker, “Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya”. Berbicara mengenai pemimpin … sosok kepala Madrasah MIN 27 Aceh Besar sudah malang melintang dalam dunia pendidikan, sudah banyak sekolah yang dibawah kepemimpinan beliau berhasil menjadi sekolah favorit. Hal tersebut tidaj

Baca selengkapnya...