Bismillah dengan Nama zat Yang Maha pengasih , Maha Penyayang, penulis mencoba mencari makna dari sebuah kata perjalanan. Allah-lah yang telah menjadikan bumi ini untuk kita jelajahi, maka jelajahilah bumi ini di segala penjurunya. Kehidupan manusia merupakan perjalanan panjang, melelahkan, penuh liku- liku, dan melalui tahapan demi tahapan. Perjalanan hidup adalah takdir yang akan kita jalani dan harus kita terima dengan rasa syukur, karena dalam perjalanan hidup ini terdapat hikmah yang baik dan bermanfaat untuk melanjutkan dan memperbaiki perjalanan yang sejati, menjadikan kita kaya akan referensi untuk lebih mengenal dunia yang sangat luas, unik, menarik, dan indah. perlu kita syukuri dari perjalanan adalah adanya “kesempatan” yang kita miliki untuk melalui seluruh proses dari cerita dan proses yang dilalui. Sebab, untuk mendapatkan kesempatan perjalanan, tentu diperlukan berbagai pengorbanan baik itu dalam hal waktu, materi, maupun tenaga .
Dunia ini bagi seorang mukmin bukanlah negeri untuk menetap, bukan sebagai tempat tinggal. Hendaklah seorang mukmin itu menyadari bahwa hidupnya seperti seorang musafir. Musafir merupakan pejalan kaki yang terus bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya. Hal ini menandakan bahwa hidup perlu terus berjuang dan tidak diperkenankan untuk bersanta-santai apalagi berleha-leha. Sebab malas bukan bagian dari iman, oleh karena hendaklah kita menyiapkan bekal untuk perjalanan itu sendiri, sehingga tidak ada kata terlambat sebelum ajal menjemput kita untuk kembali ke tempat asal .
Perjalanan di kehidupan ini akan memberikan banyak makna bagi mereka yang mau berjuang dan berkorban. Berjuang demi mencari keridhaan dan bekal untuk kembali ke yang maha kuasa. Karena pada hakikatnya hidup di dunia ini bukanlah perjalanan abadi, melainkan perjalanan sesaat. Maka seyogyanya kita mencari bekal di dunia untuk sebuah perjalanan yang abadi kelak. Kesempatan yang kita miliki di dunia ini tidak akan bisa diulangi kedua kalinya. Karena hari ini kita menanam besok kita tuai.
Perjalanan yang penuh dengan kesulitan, ujian, lika liku akan terasa ringan dan mudah selama kita bisa memaknainya dengan keimanan dan ketaqwaan. Karena Allah tidak akan memberikan sebuah ujian melainkan ada hikmah di dalamnya. Sebagimana firman Allah Ta’ala dalam Q.S. asy-Syu’ara/42:30 yang artinya “ Apa saja yang menimpa kamu maka disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan- kesalahanmu)”. Bagi seorang muslim ujian dan cobaan yang datang selama hidup ini adalah salah satu tanda Allah menyayangi hambanya tersebut.
Sebagai manusia yang beriman kepada Allah Ta’ala, harusnya selalu menanam dalam diri makna dari sebuah perjalanan. Agar hatinya merasa tentram, damai dan ridha atas segala ketentuan yang Maha Kuasa. Tidak ada kesia-siaan dalam perjananan ini. Sekecil apapun kebaikan yang kita lakukan akan diperhitungkan oleh Allah di akhirat kelak. Begitu juga sekecil apapun keburukan yang kita lakukan akan dihisab di akhirat kelak. Kita sebagai muslim jangan sampai lengah dan lalai. Kita selalu menjaga diri, menjaga perbuatan, menjaga perkataan, menjaga niat dan menjaga sikap agar terhindar dari hal-hal yang dilarang oleh Allah Ta’ala.
Banyak manusia yang jatuh ke dalam kerugian dan kesia-siaan karena belum mendapatkan makna dari sebuah perjalanan. Mengira bahwa hidup di dunia ini akan selamanya bahkan tidak meyakini akan adanya hari hisab dan pembalasan. Kita bisa menemukan makna dari sebuah perjalanan ini dengan berbagai macam cara. Mungkin saja dengan membaca, mentadabburi isi Al-Qur’an , mendengar kajian atau mendengar kisah dan lainnya. Namun, terkadang kebanyakan orang bukan tidak menemukan makna tersebut melainkan tidak ada kemauan untuk itu dan tidak memiliki tujuan yang jelas dalam kehidupan ini.
Keimanan menekankan bahwa penderitaan atau kegembiraan adalah ujian untuk melihat siapa yang terbaik amalnya. Makna hidup muncul saat seseorang mampu bersyukur atas segala nikmat, dan mampu bersabar atas semua ujian dan cobaan dalam melalui perjalanan selama hidup di dunia dengan harapan tujuan akhirnya adalah kebahagiaan di akhiart yang kekal abadi. Apapun yang kita miliki sekarang ini, apapun yang kita rasakan sekarang ini merupakan titipan dan cobaan dari yang Maha Pencipta. Tidak yang abadi di dunia ini. Bisa saja Allah memberikan hari ini nikmat, esok hari diambil kembali. Siapa sangka, semua bisa dan pasti terjadi atas kehendakNya. Tidak ada yang perlu kita sombongkan, tidak ada yang perlu kita banggakan, dan tidak ada yang perlu kita cemaskan. Hanyalah orang – orang yang mau berpikir akan menemukan makna dari sebuah perjalanan ini.
Makna kehidupan tidak selalu ditemukan dalam pencapain besar atau keberhasilan yang dipuji banyak orang. Ia sering tersembunyi dalam proses kegagalan, menerima kekurangan, dan bertahan di tengah ujian. Saat seseorang jatuh dan berusaha bangkit kembali, di situlah nilai kesabaran, keikhlasan, dan harapan terbentuk. Kehidupan mengajarkan bahwa bukan hasil akhir yang paling penting, melainkan bagaimana seseorang menjalani setiap tahap dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
Ada beberapa langkah untuk memperdalam makna hidup ini , yaitu melalui:
1. Bermuhasabah diri dengan melakukan evaluasi diri secara jujur dan berhijrah dari kelalaian menuju keta’atan.
2. Menjaga kualitas shalat dengan memperkuat hubungan spiritual melalui shalat, terutama dalam mendengar kajian.
3. Menjernihkan hati dengan menjaga hati dari prasangka dan emosi negatif agar tetap tangguh menghadapi tantangan zaman.
Selain itu, makna kehidupan juga tumbuh melalui hubungan dengan sesama.Kepedulian, empati, dan keinginan untuk memberi manfaat menjadikan hidup lebih bermakna. Seseorang mungkin tidak dikenal dengan kekayaannya, tetapi dia lebih dikenal dengan kebaikan yang pernah ia tebarkan. Dengan membantu orang lain, sesungguhnya manusia itu sedang menemukan jati dirinya sebagai makhluk sosial yang saling membutuhkan. Ketika kita punya kesempatan untuk berbuat baik, maka jangan menunda-nunda karena hidup kita di dunia tidak akan lama. Kalau kesempatan itu ada di pagi hari, jangan sampai menunggu datangnya waktu sore, demikian juga sebaliknya jika di sore itu hari kita bisa melakukan kebaikan, jangan menunggu waktu pagi.
Oleh karena itu, seorang mukmin yang cerdas itu,akan selalu mempersiapkan bekal dengan takwa kepada Allâh dan melakukan amal shalih sebaik-baiknya dengan ikhlas dan mengikuti contoh Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam serta menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Dia bersungguh-sungguh memanfaatkan waktu untuk berbuat kebaikan dan ketaatan kepada Allâh sebanyak-banyaknya. Seorang mukmin menempatkan dirinya di dunia ini seperti orang asing dan ia membayangkan bisa menetap, namun di negeri asing. Hatinya tidak terpikat dengan negeri asing tersebut. Hatinya tetap bergantung dengan tanah airnya, tempat ia akan kembali kepadanya. Ia bermukim di dunia untuk menyelesaikan tujuan persiapannya untuk pulang ke tanah airnya (yaitu Surga). Mukmin yang menyadari bahwa diri adalah seorang musafir yang tidak pernah mukim di satu tempat, namun tetap berjalan melintasi tempat-tempat perjalanan hingga perjalanannya terhenti di tempat tujuan, yaitu kematian. Barangsiapa sikapnya seperti ini di dunia, berarti dia menyadari tujuannya yaitu mencari bekal untuk perjalanan dan tidak disibukkan dengan memperkaya diri dengan perhiasan dunia. Jika dunia bukan negeri domisili dan tempat yang abadi bagi orang Mukmin, maka orang Mukmin harus bersikap dengan salah satu dari dua sikap: Pertama, seperti orang asing yang menetap di negeri asing dan obsesinya (tujuan dan cita-citanya) ialah mencari bekal untuk pulang ke tanah airnya. Kedua, seperti orang musafir yang tidak menetap sama sekali, dia terus melanjutkan perjalanannya siang dan malam menuju negeri abadi.
Barangsiapa mengetahui bahwa ia hamba Allâh dan ia akan kembali kepada-Nya, hendaklah ia mengetahui bahwa dirinya akan dihisab (pada hari kiamat). Barang siapa mengetahui bahwa dirinya akan dihisab (pada hari kiamat), hendaklah ia mengetahui bahwa ia akan ditanya atas semua nikmat yang Allah berikan kepadanya. Kita juga harus sadar bahwa waktu kita di dunia ini sangat terbatas, tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu kapan waktunya kembali kehadirat Allah Subhanahuwata’ala. Sedangkan kematian adalah hal yang pasti datang, yang datangnya tanpa tanda, tanpa aba-aba, dan tanpa permisi. Wahai musafir yang cerdas ingatlah hidup di dunia ini merupakan sebuah perjalanan yang sangat terbatas waktunya. Waktu adalah aset yang tidak bisa dikembalikan, dan manusia yang menyia-nyiakannya tanpa tujuan akhirat akan merugi. Korelasi antara keduanya adalah pemahaman bahwa kehidupan dunia bukan sekadar tempat untuk mengumpulkan harta atau mengejar kenyamanan, tetapi lebih kepada bagaimana kita mengelola waktu dengan bijak untuk menyiapkan bekal akhirat. Seorang musafir yang cerdas tidak akan membuang- buang waktunya di persinggahan dengan kesia-siaan, dia akan memastikan bahwa setiap langkahnya membawa bermanfaat untuk tujuan akhirnya. Begitu pula dalam kehidupan ini, kita harus menjalani setiap hari dengan kesadaran bahwa waktu yang kita habiskan tidak akan kembali. Kesibukan dunia seharusnya tidak membuat kita lalai terhadap tujuan sejati untuk mencari keridhaan Allah dan memastikan bahwa perjalanan kita di dunia tidak berakhir dalam kerugian. Oleh karena itu, hidup sebagai orang asing di dunia bukan berarti menjauh dari aktivitas duniawi, tetapi memastikan bahwa setiap detik yang kita jalani berkontribusi untuk kehidupan abadi yang sesungguhnya. Mari kita jadikan dunia ini sebagai ladang kita dalam beramal shalih untuk perbekalan kita pada kehidupan selanjutnya. Mari kita isi kehidupan kita yang sementara ini dengan banyak hal yang bermanfaat, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.
Demikianlah semoga bermanfaat. Wallahu A’lamu bisshawaab.“
Penulis : Hayaton Nufus, S.Pd.I
