Oleh: Nurmayasari, S.Pd
Matematika, sebagai ratu ilmu pengetahuan, harusnya menjadi mata pelajaran yang banyak diminati, disukai, logis dan menantang bagi peserta didik. Namun ironisnya bagi sebagian peserta didik matematika di anggap pelajaran yang sangat melelahkan, menakurkat bahkan ketika akan masuk pelajaran ini terlihat wajah wajah kecemasan dan juga ketakutan. Hal ini mengakibatkan sebagian guru matematika di pandang negatif. Seperti guru yang judes, tanpa belaskasih, galak atau tidak sabaran. Karna stikma peserta didik terhadap guru seperti ini maka, peserta didik banyak diam sehingga dalam pembelajaran matematika menjadi senyap, dingin, dan serius. Hal ini mengakibatkan guru matematika di anggap sangat fokus dan membuat suasana kelas tengang. Itulah yang saya rasakan ketika saya dulu menjadi murit.
Esai ini bertujuan untuk membongkat apakah betul stigma guru matematika judes. Saya akan membahas apa sebenarnya yang menjadikan guru matetika judes, dan bagaimana stigma itu terbentuk di lingkungan pendidikan. Untuk memahami hal ini dapat kita lihat ada dua hal penyebab utamanya yaitu, sifat mata pelajaran matematika itu sendiri dan cara guru tersebut mengajar. Mari kita bahas.
Matematika adalah ilmu yang pasti. Dalam berbagai cabang madas, jawabang dari pertanyaan pertanyaan adalah pasti, akura, kongkrit serta tidak dapat di tawar. Jika ada pertanyaan 3 +2 = 5 dan jika ada pertanyaan 2×1 = 2 hal ini jelas dan tidak dapat di ubah sama sekali. Maka selain jawaban yang itu semua dianggap salah. Karna hal ini memicu pemahaman matematika itu kaku, tidak ada toleransi.
Keakurasian mata pelajaran ini berbeda dengan pelajaran lain. Seperti pelajaran seni yang setiap goresan mempunyai nilai sendiri tergantung apa yang diniatkan oleh si pembuatnya. Setiap tinta yang keluar ketika menggambar mempunyai makna tersendiri dan tidak di anggap salah. Namun hal ini berbeda dengan matematika yang merupakan ilmu pasti. Jika jawaban 2+3≠5 maka jawabannya salah. Ketika di bandingkan kedua mata pelajaran ini maka sangat jelas di sini guru matematika sangat kaku terhadap suatu hal
Pola mengajar guru matematika juga menjadi salah satu faktor yang membuat peserta didik itu menganggap guru matimatika judes. Seperti guru matematika mengajarkan hal yang sama ke setiap kelas, namun sudah pasti peserta didik itu mempunyai daya ingat dan daya tangkap yang berbeda. Karna hal ini terkadang dugu menekankan pembelajaran ber ulang ulang agar mebuat siswanya paham. Minggu ini mengajarkan perkalian, karna ada siwa yang belum paham maka minggu depan mengajarkan perkalian lagi hingga membuat siswa yang sudah paham menganggap guru matematika itu monoton, melakukan apa yang dia suka. Namu pada dasarnya matematika itu pembelajarannya berkelanjutan, jika satu bagian tidak dapat di pahami maka di bagian selanjutnya pasti akan membuat siswa tersebul lebih susah memahaminya.
Dari kedua alasan tersebuat dapat saya simpulkan bahwa sifat dari mata pelajaran itu lah yang membuat guru pelajaran matematika itu dianggap sebagai guru yang judes dan tegas.
Ketika saya telah menjadi guru sekarang saya mencoba melakukan pembelajaran dengan cara yang lebih menyenangkan hingga membuat peserta didik menghilangkan stigma guru matematika itu galak. Nyatanya hal ibu bisa terwujud. Namun tetap pembelajaran matematika itu di anggap sebangai pelajaran yang lebih sulit dari pada pelajaran lainnya.
Walau pembelajaran matematika dianggap suli namu karana matematika adalah ilmu yang mendukung semua mata pelajaran. Maka parang orangtua wali dan juga peserta didik sangan paham pentingnya belajar matematika.
Karya ini telah terbit pada buku yang berjudul “KAPABILITAS PERSONAL”
