IMG-20261003-WA0052-1
“Festival Literasi Aceh #1 Dorong Penguatan Budaya Literasi di Aceh”

 

Banda Aceh, 3 Oktober 2026 — Festival Literasi Aceh (FLA) #1 resmi digelar di Anjong Mon Mata, Banda Aceh, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat budaya literasi di Aceh sekaligus mendorong sekolah dan madrasah agar terus mengembangkan kemampuan literasi, kreativitas, dan karakter peserta didik.

Festival Literasi Aceh #1 diikuti oleh 63 sekolah dan madrasah dari berbagai wilayah di Aceh dengan jumlah peserta mencapai 3.294 orang. Kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah pejabat dan tokoh pendidikan, literasi, serta mitra yang mendukung pengembangan pendidikan di Aceh.

Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh Drs. H. Azhari, M.Si., Kepala Bidang Pendidikan Madrasah Kanwil Kemenag Aceh H. Khairul Azhar, S.Ag., M.Si., perwakilan Dinas Pendidikan Provinsi Aceh Syarwan, Advisor Nyalanesia Imam Subchan, Project Manager Nyalanesia Ririn Soetiawati, serta sejumlah pejabat dari Dinas Pendidikan, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, Kementerian Agama, dan unsur pendidikan lainnya di Aceh.

Dari Kabupaten Aceh Besar turut hadir Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar H. Saifuddin, S.E., Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kemenag Aceh Besar H. Suryadi, S.Ag., M.Pd., serta sejumlah unsur terkait lainnya.

 

Salah satu rangkaian utama Festival Literasi Aceh #1 adalah penandatanganan secara simbolis perpanjangan kesepakatan bersama antara Nyalanesia dan Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Aceh. Kerja sama tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat program literasi di lingkungan pendidikan, khususnya sekolah dan madrasah di Aceh.

Pada kesempatan yang sama, panitia juga meluncurkan Festival Literasi Aceh #2 sebagai keberlanjutan program pengembangan literasi di Aceh.

Festival tersebut juga diisi dengan sejumlah penganugerahan kepada tokoh yang dinilai memiliki kontribusi dalam pengembangan literasi. Kepala Kanwil Kemenag Aceh, H. Azhari, M.Si., menerima penghargaan sebagai Tokoh Penggerak Literasi Nasional.

Penghargaan Tokoh Penggerak Literasi juga diberikan kepada Bunda Literasi Provinsi Aceh, Ibu Marlina Muzakkir Manaf. Namun, yang bersangkutan berhalangan hadir karena sedang mengikuti kegiatan Dekranas di Surabaya.

 

Sementara itu, penghargaan sebagai Penggerak Literasi Aceh Besar diberikan kepada Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Aceh Besar, H. Saifuddin, S.E.

 

Puncak Festival Literasi Aceh #1 turut dimeriahkan dengan Nyalatalk yang bertema “Dialog Kepemimpinan untuk Pendidikan Literasi dan Karakter” yang disampaikan oleh Dekan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Ar-Raniry, Prof. Safrul Muluk, S.Ag., M.A., M.Ed., Ph.D.

Dialog tersebut menjadi ruang untuk membahas pentingnya kepemimpinan dalam membangun ekosistem pendidikan yang mendukung perkembangan literasi sekaligus penguatan karakter peserta didik.

 

Dalam kegiatan ini juga diberikan berbagai penghargaan Festival Literasi Aceh #1, di antaranya Penghargaan Duta Literasi Aceh kepada Ibu Naswati, S.Ag., penghargaan Sekolah Penggerak Literasi Aceh kepada MIN 27 Aceh Besar, penghargaan Sosialisator dan Penggerak Literasi Nasional Wilayah, serta penghargaan kepada para pemenang karya siswa tingkat kabupaten/kota.

 

Koordinator Festival Literasi Aceh, Ibu Naswati, S.Ag., menyampaikan bahwa pengembangan literasi perlu dilakukan secara menyeluruh melalui berbagai elemen literasi.

“Dengan mengembangkan enam elemen literasi, insyaallah Aceh Carong, Aceh Berjaya akan terwujud.”

Naswati juga mengajak sekolah dan madrasah untuk terus berpartisipasi dalam Festival Literasi Aceh #2. Menurutnya, program literasi memberikan manfaat yang besar bagi peserta didik dan lembaga pendidikan.

Ia berharap penguatan enam elemen literasi dapat diterapkan secara konsisten sehingga sekolah dan madrasah di Aceh mampu berkembang dan berkolaborasi dengan lembaga pendidikan lainnya di tingkat nasional.

 

Advisor Nyalanesia, Imam Subchan, menyampaikan bahwa program literasi memberikan ruang kepada anak-anak untuk menyampaikan gagasan, pemikiran, dan isi hati melalui karya.

Dalam sambutannya, Imam juga menyampaikan kekagumannya terhadap kekayaan budaya Aceh. Salah satu hal yang berkesan baginya adalah tradisi perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW di Aceh yang menurutnya menunjukkan nilai penghormatan terhadap tamu, kebersamaan, dan kepedulian terhadap sesama.

Ia menilai kekayaan budaya tersebut dapat menjadi sumber inspirasi dalam pengembangan literasi. Menurutnya, literasi dapat menjadi jembatan untuk mengembangkan kreativitas sekaligus menggali berbagai potensi yang dimiliki anak-anak Aceh.

Imam juga mengajak sekolah dan madrasah untuk terus meningkatkan kreativitas peserta didik melalui partisipasi dalam Festival Literasi Aceh #2.

 

Sementara itu, Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Aceh, H. Azhari, M.Si., menekankan bahwa literasi dan pendidikan karakter tidak terlepas dari peran keluarga.

Ia mengaitkan pentingnya pendidikan dengan kandungan Surah Al-‘Alaq ayat 1–5, yang menjadi salah satu landasan penting tentang perintah membaca dan belajar.

Menurutnya, pendidikan karakter dan pembiasaan yang baik berawal dari keluarga. Pembiasaan tersebut kemudian dapat diperkuat melalui lingkungan sekolah dan madrasah sehingga mampu melahirkan generasi Aceh yang berprestasi dan memiliki budaya literasi yang kuat.

H. Azhari berharap gerakan literasi dapat terus diterapkan di sekolah dan madrasah di seluruh Aceh. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan pihak yang telah berkontribusi dalam penyelenggaraan Festival Literasi Aceh #1.

 

Rangkaian Festival Literasi Aceh #1 ditutup dengan seremoni dan peluncuran buku “Sekolah Jadi Juara”, yang merupakan hasil dari program Festival Literasi Aceh.

Kegiatan semakin semarak dengan penampilan Sanggar Seni Beujroh MIN 27 Aceh Besar yang turut mempersembahkan pertunjukan seni dalam acara tersebut.

Festival Literasi Aceh #1 diharapkan menjadi bagian dari gerakan bersama untuk menumbuhkan budaya membaca, menulis, berkarya, berpikir kritis, dan berkreasi di lingkungan pendidikan. Melalui kolaborasi antara pemerintah, sekolah, madrasah, komunitas literasi, keluarga, dan berbagai pihak terkait, penguatan literasi di Aceh diharapkan dapat terus berkembang secara berkelanjutan.

Oleh : Suci Rahmafitri, S.Pd (Persgu MIN 27 Aceh Besar) 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait

Legenda Danau Laut Tawar

Sumber Youtube MIN 27 Aceh Besar Dari video ini menceritakan tetntang kisah Danau laut Tawar dalam bentuk story telling. Story telling ini dibawakan oleh Nurul Izzah siswi MIN 27 Aceh Besar pada ajang lomba Marssal 8 MTsN Model Banda Aceh. Dalam story telling ini menceritakan pada zaman dahulu di tanah Takengon, Aceh hiduplah seorang putri

Baca selengkapnya...

Sang Inspirator

    Menurut Peter F.Drucker, “Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya”. Berbicara mengenai pemimpin … sosok kepala Madrasah MIN 27 Aceh Besar sudah malang melintang dalam dunia pendidikan, sudah banyak sekolah yang dibawah kepemimpinan beliau berhasil menjadi sekolah favorit. Hal tersebut tidaj

Baca selengkapnya...