1000433738-1
“GEOMETRI, KEINDAHAN DALAM KETERATURAN pada MUSEUM TSUNAMI ACEH”

GEOMETRI, KEINDAHAN DALAM KETERATURAN pada MUSEUM TSUNAMI ACEH
Nofa Afriza, S.Pd

Setiap liburan kenaikan kelas, tentu kita sebagai warga Aceh akan berwisata ke berbagai tempat bersejarah, dan salah satunya akan mengunjungi Museum Tsunami.
Museum Tsunami Aceh sendiri merupakan sebuah museum yang dirancang sebagai simbolis untuk mengenang salah satu peristiwa bencana yang paling besar yang mengakibatkan ratusan juta jiwa rakyat Aceh melayang dalam sekejap mata, yang membuktikan kuasa Allah atas alam semesta ini.
Ketika kita memasuki halaman museum ini, mata kita akan terpukau dengan indahnya tampilan dinding museum. Itulah bentuk Geometri, segi enam yang tersusun teratur dengan pola tertentu membentuk estetika yang menakjubkan.
Sebelum mengulik lebih lanjut indahnya keteraturan geometri yang ada pada museum tsunami ini, mari sejenak kita mengenal geometri.
​​Geometri Adalah cabang matematika yang mempelajati bentuk, ukuran, dan sifat ruang serta hubungan antar titik, garis, dan bidang. Memahami konsep geometri membuat kita dapat mengukur, mendesain, dan membangun sesuatu dengan akurat.
Sejarah geometri dimulai sejak zaman kuno, terutama di Mesir dan Mesopotamia. Namun, perkembangan besar terjadi di Yunani kuno dengan tokoh seperti Euclid yang menulis “Elements”, sebuah karya monumental yang menyusun dasar-dasar geometri secara sistematis. Geometri Euclid atau geometri datar, mempelajari titik, garis, sudut, segitiga, dan lingkaran pada bidang datar dan menjadi dasar dari berbagai aplikai geometri modern.
Selain geometri datar, ada juga geometri ruang yang mempelajari objek tiga dimensi, seperti kubus, bola dan silinder. Geometri ruang penting dalam arsitektur, teknik dan fisika karena berkaitan dengan ruang dan bentuk nyata di lingkungan sekitar.
​​Keindahan yang dapat kita lihat pada Museum Tsunami mencerminkan bagaimana susunan geometri teratur dapat menciptakan estetika menakjubkan dan harmonis.
Museum Tsunami Aceh terbagi menjadi empat zona, yaitu zona satu yang membawa kita merasakan rasanya diselimuti bencana Tsunami, zona dua yang menjadi ruangan eksibisi digital yaitu ruang audio visual menampilkan film documenter tragedi Tsunami yang melanda Aceh, zona tiga sebagai ruang eksibisi pameran temporer koleksi yang memperlihatkan koleksi-koleksi peninggalan Tsunami Aceh, sedangkan zona empat menjadi zona evakuasi, zona ini terdapat pada bagiab rooftop gedung tsunami Aceh yang difungsikan sebagai area evakuasi yang hanya akan dibuka pada saat darurat bencana.
Zona satu terbagi menjadi lima space. Pertama, dinamakan “Space of Fear” yang merupakan akses awal pengunjung untuk memasuki Museum Tsunami. Pada space ini geometri terlihat pada dinding yang tersusun dari segiempat teratur yang keseluruhannya memiliki panjang 30 meter dan tinggi mencapai 19-23 meter, melambangkan tingginya gelombang tsunami yang terjaddi pada tahun 2004 silam.
Space kedua dinamakan “Space of Memory”, disini terlihat geometri ruang yang digunakan berupa balok-balok yang tersusun rapi dan teratur dimana diatasnya ditanamkan monitor digital yang menampilkan foto para korban dan Lokasi bencana yang mengingatkan kita akan kenangan Tsunami yang melanda Aceh.
Space ketiga dinamakan “Chamber of Blessing”, yang berbentuk sebuah ruangan dengan dinding yang dipenuhi nama-nama korban tsunami, guna mengingatkan pengunjung akan banyaknya nyawa yang hilang dan memberikan penghormatan kepada mereka yang telah tiada. Geometri yang digunakan disini geometri ruang berbentuk silinder dan pada atapnya terdapat geometri datar berupa lingkaran. Paduan dari kedua geometri yang teratur ini menciptakan estetika ruangan yang sungguh menakjubkan.
Space keempat dinamakan “Space of Confuse” , menggambarkan filosofi kebingungan dan keputusasaan masyarakat Aceh saat didera tsunami pada tahun 2004 silam, kebingungan akan arah tujuan dankebingungan mencari sanak saudara yang hilang.
Space kelima dinamakan “Space of Hope” yang artinya jembatan harapan. Pada space ini, geometri yang digunakan berupa persegi yang tersusun teratur pada jalan jembatan dipadukan dengan pegangan jembatan yang berupa besi berbentuk silinder sehingga menciptakan estetika yang membangkitkan kekaguman bagi orang yang melihatnya.
Pada jembatan harapan ini, pengunjung dapat melihat 54 bendera dari 54 negara yang ikut membantu Aceh pasca tsunami. Di setiap bendera bertuliskan kata “Damai” dengan bahasa dari masing-masing negara sebagai refleksi perdamaian Aceh dari konflik sebelum tsunami terjadi.
Secara keseluruhan, penerapan geometri pada Museum Tsunami Aceh sebagai keindahan dalam keteraturan menunjukkan bagaimana ilmu matematika dan seni dapat bersinergi menciptakan karya arsitektur yang tidak hanya estetis, tetapi juga sarat makna. Museum ini menjadi simbol nyata bahwa dari keteraturan dan bentuk yang terstruktur, kita dapat menemukan keindahan dan makna mendalam, bahkan dalam mengenang sebuah peristiwa yang penuh duka. Geometri di sini bukan hanya soal bentuk, tetapi juga soal menyampaikan pesan tentang ketahanan, harapan, dan pembelajaran dari pengalaman masa lalu.

Karya ini telah terbit pada buku yang berjudul “KAPABILITAS PERSONAL”(Nyalanesia) 

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait

Legenda Danau Laut Tawar

Sumber Youtube MIN 27 Aceh Besar Dari video ini menceritakan tetntang kisah Danau laut Tawar dalam bentuk story telling. Story telling ini dibawakan oleh Nurul Izzah siswi MIN 27 Aceh Besar pada ajang lomba Marssal 8 MTsN Model Banda Aceh. Dalam story telling ini menceritakan pada zaman dahulu di tanah Takengon, Aceh hiduplah seorang putri

Baca selengkapnya...

Sang Inspirator

    Menurut Peter F.Drucker, “Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya”. Berbicara mengenai pemimpin … sosok kepala Madrasah MIN 27 Aceh Besar sudah malang melintang dalam dunia pendidikan, sudah banyak sekolah yang dibawah kepemimpinan beliau berhasil menjadi sekolah favorit. Hal tersebut tidaj

Baca selengkapnya...