1000435724
“Hari Jumat Berkah di Madrasah Ibtidaiyah 27 Aceh Besar”

Hari Jumat Berkah di Madrasah Ibtidaiyah 27 Aceh Besar

Pagi itu, langit di Kabupaten Aceh Besar tampak cerah membentang. Angin sepoi-sepoi berembus lembut, membawa aroma tanah yang masih basah oleh embun. Di sebuah sekolah sederhana bernama Madrasah Ibtidaiyah 27 Aceh Besar, anak-anak mulai berdatangan dengan wajah ceria dan penuh semangat. Hari itu adalah hari Jumat, hari yang selalu dinanti karena ada kegiatan istimewa yang disebut “Jumat Berkah”.

Sejak pukul tujuh pagi, halaman madrasah sudah ramai. Sausan Syakira datang bersama sahabatnya, Siti dan Rahma. Mereka membawa sapu kecil dan perlengkapan kebersihan lainnya.

“Jangan lupa, hari ini kita piket membersihkan taman, ya,” kata Sausan Syakira dengan penuh semangat.

Siti dan Rahma mengangguk kompak. “Iya, supaya madrasah kita makin bersih dan indah,” jawab mereka.

Program Jumat Berkah memang sudah menjadi kebiasaan yang dinanti di madrasah itu. Setiap hari Jumat, seluruh siswa dan guru melaksanakan kegiatan bersama, seperti membersihkan lingkungan sekolah, membaca Surah Yasin, melantunkan Asmaul Husna, menampilkan kemampuan masing-masing siswa dalam bidang agama, serta bersedekah dengan penuh keikhlasan.

Bel berbunyi pelan, menandakan kegiatan segera dimulai. Anak-anak berbaris rapi di halaman. Para petugas upacara menggelar tikar di lapangan, sementara para guru berdiri di barisan depan. Bu Naswati, S.Ag., selaku kepala madrasah, berdiri dengan wajah teduh memandang murid-muridnya.

“Anak-anak, hari ini kita belajar tentang arti berbagi. Jumat adalah hari yang mulia. Siapa yang tahu mengapa?” tanya beliau dengan lembut.

Seorang siswi bernama Azkiya mengangkat tangan dengan percaya diri. “Karena hari Jumat adalah hari yang penuh keberkahan, Bu!”

Bu Naswati tersenyum bangga. “Betul sekali. Maka dari itu, mari kita isi hari ini dengan kebaikan dan amal yang bermanfaat.”

Kegiatan pun dimulai dengan membaca Surah Yasin bersama-sama di halaman madrasah. Lantunan ayat suci terdengar merdu dan menenangkan hati. Suasana menjadi khusyuk dan damai.

Setelah itu, beberapa siswa maju ke depan untuk menampilkan kemampuan mereka, seperti membaca ayat suci Al-Qur’an, menghafal doa, dan menyampaikan ceramah singkat. Teman-teman mereka menyimak dengan penuh perhatian dan memberikan tepuk tangan yang meriah.

Kemudian, para petugas kelas mengumpulkan sedekah seikhlasnya dari teman-teman mereka. Uang yang terkumpul akan disalurkan kepada anak-anak yatim dan digunakan untuk membantu kebutuhan sosial lainnya.

“Semoga bermanfaat,” bisik Sausan pelan sambil memasukkan uang sedekahnya.

Sebelum pulang, Bu Khairina, wali kelas Sausan, memberikan pesan yang penuh makna. “Ingatlah, anak-anak, Jumat Berkah bukan hanya kegiatan di sekolah. Jadikan berbagi, peduli, dan berbuat baik sebagai kebiasaan setiap hari.”

Sausan mengangguk mantap. Dalam hatinya, ia berjanji akan terus berbuat baik, bukan hanya pada hari Jumat, tetapi setiap hari.

Matahari mulai condong ke barat ketika anak-anak bersiap pulang ke rumah masing-masing. Langkah mereka terasa ringan, hati mereka dipenuhi kebahagiaan dan rasa syukur.

Hari Jumat itu bukan sekadar tentang membersihkan madrasah atau mengumpulkan sedekah. Lebih dari itu, hari tersebut mengajarkan arti kebersamaan, kepedulian, tanggung jawab, dan keikhlasan.

Dan di Madrasah Ibtidaiyah 27 Aceh Besar, Jumat akan selalu menjadi hari yang penuh berkah dan kenangan indah.

Mujahidin, S.Pd.I

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait

Legenda Danau Laut Tawar

Sumber Youtube MIN 27 Aceh Besar Dari video ini menceritakan tetntang kisah Danau laut Tawar dalam bentuk story telling. Story telling ini dibawakan oleh Nurul Izzah siswi MIN 27 Aceh Besar pada ajang lomba Marssal 8 MTsN Model Banda Aceh. Dalam story telling ini menceritakan pada zaman dahulu di tanah Takengon, Aceh hiduplah seorang putri

Baca selengkapnya...

Sang Inspirator

    Menurut Peter F.Drucker, “Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya”. Berbicara mengenai pemimpin … sosok kepala Madrasah MIN 27 Aceh Besar sudah malang melintang dalam dunia pendidikan, sudah banyak sekolah yang dibawah kepemimpinan beliau berhasil menjadi sekolah favorit. Hal tersebut tidaj

Baca selengkapnya...