Karya “Muliadi Kurdi”
Orang tua dari Viqas Fawwas Nabiha
Kelas 6 Ar-Rasyid (Digital)
Ketika Rasulullah ﷺ menetap di Madinah, rumah para sahabat berada di sekitar kediaman beliau. Kehadiran mereka seakan menjadi pagar hidup yang senantiasa menjaga Sang Nabi dari segala kemungkinan yang mengancam. Di antara sahabat yang paling dekat adalah al-Fārūq, Sayyidina ‘Umar bin al-Khaṭṭāb ra., yang rumahnya berhadapan langsung dengan rumah Rasulullah ﷺ. Ibn Sa‘d dalam al-Ṭabaqāt al-Kubrā mencatat bahwa Umar sering keluar masuk rumah Nabi karena kedekatannya, terlebih setelah putrinya, Ḥafṣah, dinikahi oleh Rasulullah ﷺ. Dari jendela rumahnya, Umar dapat setiap saat memperhatikan gerak-gerik Nabi, bahkan ia kerap berpesan kepada putrinya: “Bergegaslah wahai Ḥafṣah, Rasul sudah mulai bersiap untuk mengajar.”
Pernikahan Rasulullah ﷺ dengan Sayyidah Ḥafṣah ra. menjadikannya salah seorang Ummul Mu’minīn yang memiliki peran penting dalam sejarah Islam. Di rumah beliaulah tersimpan lembaran-lembaran wahyu yang kelak dijadikan dasar kodifikasi al-Qur’an. Mushaf yang dihimpun pada masa Khalifah Abu Bakar ra., kemudian dijaga oleh Hafṣah, menjadi rujukan utama pada masa Khalifah ‘Utsmān bin ‘Affān. Al-Suyūṭī dalam al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān menegaskan bahwa mushaf standar yang dijadikan pegangan umat Islam berakar dari lembaran-lembaran yang tersimpan di rumah beliau. Dengan demikian, rumah Hafṣah bukan hanya saksi sejarah rumah tangga Rasulullah ﷺ, tetapi juga tempat penjagaan wahyu Ilahi.
Namun, di balik peran besar itu, kisah cinta dan kerinduan Sayyidah Ḥafṣah kepada Rasulullah ﷺ setelah wafatnya beliau menjadi bagian yang menyentuh hati. Ibnu Katsir dalam al-Bidāyah wa al-Nihāyah menuturkan bahwa para Ummul Mu’minīn merasakan kehilangan yang mendalam, hingga memperbanyak ibadah sebagai penguat jiwa. Dalam tradisi lisan yang berkembang di Madinah, disebutkan bahwa rumah Hafṣah, yang kini berada di area Raudhah Masjid Nabawi, tidak pernah ditutup jendelanya setelah Rasulullah ﷺ wafat. Jendela itu dibiarkan terbuka, agar setiap kali kerinduan datang, ia dapat memandang ke arah pusara Nabi. Simbol ini dalam tradisi sufistik dimaknai sebagai wasīlah, jalan batin untuk tetap terhubung dengan Sang Kekasih meski secara fisik telah tiada.
Ketika kami berkesempatan menziarahi Masjid Nabawi di tahun 2025, dalam rangkaian ibadah umrah, hati kami bergetar melihat jendela itu masih terbuka. Menurut penuturan sejarah, jendela tersebut tidak pernah tertutup sejak 1400 tahun silam, bahkan pada masa pandemi COVID-19 ketika seluruh pintu Masjid Nabawi ditutup rapat pintu ini tetap saja terbuka. Hal ini memberi pesan mendalam: cinta Sayyidah Ḥafṣah kepada Rasulullah ﷺ adalah cinta yang tidak pernah padam, dan jendela itu kini menjadi saksi bisu kerinduan yang abadi.
Inilah makna di balik kisah rumah dan jendela Sayyidah Ḥafṣah yang tidak hanya mengandung nilai sejarah, tetapi juga spiritualitas. Dari segi sejarah, rumah beliau menjadi pusat penjagaan wahyu Allah hingga lahir mushaf standar umat Islam. Dari segi batin, jendela yang selalu terbuka adalah simbol kerinduan seorang istri sekaligus Ummul Mu’minīn kepada Rasulullah ﷺ. Hingga hari ini, umat Islam dari berbagai penjuru dunia masih dapat menyaksikan jejak sejarah itu di Raudhah, menjadikannya bagian dari ziarah hati yang penuh makna, sekaligus pengingat bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ adalah cinta yang tidak boleh pernah tertutup.
