*Maklumat Tiga Cipta: Saat Rentak Kami Disahkan Negeri*
Oleh : Furqan Desriandy
Di sudut MIN 27 Aceh Besar, ada ruang sederhana yang tak pernah benar-benar sunyi. Di sanalah gerak dilatih, irama dirangkai, dan mimpi-mimpi kecil dibesarkan. Ruang itu bernama Sanggar Seni Beujroeh.
Aku, Furqan, menjadi saksi bagaimana langkah kecil dapat menjelma menjadi sejarah yang bermakna.
Perjalanan itu dimulai pada tahun 2019. Untuk pertama kalinya, kami menggelar PINSI di halaman madrasah. Panggungnya sederhana, beratapkan langit terbuka, namun semangatnya menggetarkan. Rapai Geleng membuka acara dengan gagah. Anak-anak kami menari dengan penuh keyakinan, seolah ingin mengatakan bahwa mereka siap menunjukkan kemampuan terbaiknya.
Tak lama setelah itu, pandemi Covid-19 datang. Aktivitas berhenti. PINSI pun terpaksa vakum. Halaman yang dahulu riuh oleh tepuk tangan kembali lengang. Namun semangat tak pernah benar-benar padam—ia hanya menunggu waktu untuk bangkit kembali.
Tahun 2024, PINSI kedua digelar di Gedung Al Mubarkeya, Aceh Besar. Di panggung yang lebih luas itu, lahirlah karya baru: Tari Tika Seukee. Tarian ini mengisahkan proses pembuatan anyaman tikar sebagai bagian dari tradisi Aceh. Gerakan para penari yang serempak menggambarkan ketekunan, kesabaran, dan kebersamaan.
Setahun kemudian, 2025, PINSI ketiga berlangsung di aula Poltekkes Kemenkes Aceh. Di sanalah kami mempersembahkan Tari Sinyak Chen-Chen, tarian ceria yang menggambarkan semangat belajar dan bermain peserta didik MIN 27 Aceh Besar. Dengan irama yang ringan dan gerak penuh energi, tarian ini berhasil mencuri perhatian. Bahkan, ia meraih Juara 1 lomba nasional yang diselenggarakan oleh Nyalanesia, sekaligus mengharumkan nama madrasah.
Tari Tika Seukee dan Tari Sinyak Chen-Chen pun kerap meraih juara dalam berbagai perlombaan seni tari di tingkat kabupaten dan kota di Aceh.
Puncaknya terjadi pada tahun 2026. PINSI keempat digelar di Gedung Serbaguna Stadion Harapan Bangsa, Kota Banda Aceh. Panggungnya megah, dengan tampilan LED yang menawan, dan ratusan pasang mata menyaksikan dengan penuh antusias. Di momen inilah kami menghadirkan Tari Rentak Sigoe, sebuah garapan kolosal yang memadukan unsur Rapai Geleng, Tika Seukee, dan Sinyak Chen-Chen dalam satu komposisi baru yang utuh dan gagah.
Namun di balik setiap tepuk tangan, ada satu langkah penting yang ingin kami pastikan: menjaga identitas karya ini agar tetap menjadi milik madrasah kami.
Bersama Kepala Madrasah, Ibu Naswati, S.Ag., aku berinisiatif mendaftarkan Tari Tika Seukee, Tari Sinyak Chen-Chen, dan Tari Rentak Sigoe ke Kementerian Hukum Republik Indonesia agar hak cipta ketiganya tercatat secara resmi.
Didukung penuh oleh para koreografer—Yusrina Ghufrani sebagai pencipta Tari Tika Seukee dan Tari Sinyak Chen-Chen, serta kolaborasinya bersama Opal Duana dan Fairuz Zabadi dalam Tari Rentak Sigoe—kami melengkapi seluruh persyaratan yang dibutuhkan.
Berkas-berkas kami susun dengan cermat, konsultasi dilakukan dengan pihak kementerian, dan setiap ketentuan administratif dipenuhi dengan penuh tanggung jawab. Hingga akhirnya, kabar yang kami nantikan pun tiba—sertifikat Surat Pencatatan Ciptaan resmi terbit.
Saat itu, rasanya bukan sekadar menerima dokumen. Itu adalah pengakuan. Itu adalah penjagaan atas jati diri. Tiga tarian kami kini sah diakui negara dan terlindungi secara hukum.
Pada pagi yang cerah hingga menjelang siang di PINSI keempat, di hadapan ratusan pasang mata, kami mengumumkan Maklumat Tiga Hak Cipta Tari MIN 27 Aceh Besar. Suasana terasa khidmat, bukan hanya sebagai pertunjukan seni, tetapi sebagai penegasan identitas dan kebanggaan bersama.
Di atas panggung, piagam penghargaan diserahkan kepada Yusrina Ghufrani atas dedikasi, kesetiaan, dan kegigihannya membina Sanggar Seni Beujroeh hingga mampu mengantarkan peserta didik meraih berbagai prestasi membanggakan.
Tepuk tangan bergemuruh memenuhi gedung.
Di tengah riuh apresiasi itu, hatiku hening oleh rasa syukur. Tanpa dukungan penuh Ibu Naswati, S.Ag., mungkin langkah besar ini tak pernah terwujud. Beliau bukan hanya pemimpin, tetapi penguat setiap ide dan pengembangan madrasah.
Dari halaman sederhana tahun 2019,
hingga panggung megah tahun 2026,
kami tak hanya menari.
Kami menjaga karya.
Kami menguatkan identitas.
Kami memaklumatkan jati diri.
Dan sejak hari itu, rentak kami bukan hanya menggema di panggung—
ia telah disahkan negeri.
