MENGAJAR PELAJARAN IPAS
Irsalina, S. Pd
Latar belakang
IPAS merupakan hasil penggabungan atau integrasi dari dua mata pelajaran yang sebelumnya terpisah dalam kurikulum sebelumnya (Kurikulum 2013), yaitu:Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dan
Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS)bertujuan membentuk pemahaman utuh tentang diri, lingkungan, dan masyarakat, sekaligus mengembangkan keterampilan proses sains dan sosial. Dalam Kurikulum Merdeka, kedua mata pelajaran ini digabungkan menjadi IPAS.
Penggabungan ini didasarkan pada pandangan bahwa peserta didik di tingkat sekolah dasar cenderung melihat fenomena di sekitar mereka sebagai satu kesatuan yang utuh dan terpadu.
IPAS mengkaji makhluk hidup dan benda mati di alam semesta serta interaksinya, sekaligus mengkaji kehidupan manusia sebagai individu dan makhluk sosial yang berinteraksi dengan lingkungannya.
Tujuan pembelajaran IPAS
Membangkitkan rasa ingin tahu peserta didik serta membantu mereka memahami diri sendiri dan lingkungan sekitar, juga menumbuhkan minat dan peran aktif dalam melestarikan lingkungan alam dan sosial.
Mengajak peserta didik melihat dunia disekitar mereka secara tidak terpisah-pisah melainkan sebagai kesatuan anatara fenomena alam dan sosial.
Materi IPAS
Ilmu Sains
1. Makhluk Hidup dan Lingkungannya
Siklus hidup, keanekaragaman hayati, ekosistem.
2. Benda dan Sifatnya
Perubahan wujud, energi (cahaya, bunyi, listrik, magnet), dan teknologi.
3. Bumi dan Antariksa
Struktur Bumi, cuaca, sistem tata surya.
Ilmu Sosial
1. Interaksi Sosial dan Budaya Kehidupan bermasyarakat, nilai-nilai, keragaman budaya, sejarah lokal.
2. Koneksi Spasial dan Temporal Hubungan antara ruang (geografi) dan waktu (sejarah), seperti perkembangan suatu daerah dari masa ke masa.
3. Perekonomian dan Kesejahteraan Kegiatan ekonomi, sumber daya, dan upaya mencapai kesejahteraan.
Minat Peserta Didik dalam Pembelajaran IPAS
Meningkatnya minat belajar peserta didik pada pembelajaran IPAS dapat di capai karena metode dan media pembelajaran yang kreatif tidak menonton langsung memperagakan. Pembelajarannya di anggap menarik materi berkaitan dengan fenomena yang di alami dalam kehidupan sehari-hari.
Peserta didik sangat tertarik dengan metode eksperimen yang di terapkan oleh guru, dengan metode ini mereka mendapat ilmu baru yang mudah di ingat.
Minat peserta didik terhadap IPAS meningkat karena proses pembelajarannya meliputi tiga kunci utama:
1. Relevansi kontekstual
Materi ajar tidak terpisah dari kehidupan nyata peserta didik. Ketika peserta didik belajar tentang energi listrik, minat mereka meningkat pesat karena materi tersebut dikaitkan langsung dengan masalah pemadaman listrik di lingkungan mereka atau belajar tentang teknologi panel surya.
Minat itu tumbuh dari pengamatan baik dari lingkungan atau di laboratorium (praktek langsung).
Pelajaran IPAS mengubah peserta didik dari penerima pasif menjadi peneliti aktif.
2. Pembelajaran berbasis proyek
Pembelajaran ini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerja seperti ilmuan alam dan sosial. Peserta didik membuat sebuah eksperimen sederhana dari bahan alam.
Peserta didik juga mengamat dan mengumpulkan data hingga menghasilkan solusi yang berdampak nyata pada lingkungan mereka.
3. Pendekatan interdisipliner
Pendekatan ini mendorong pemikiran kritis tingkat tinggi.
Peserta didik tidak hanya tahu apa fenomena itu atau kapan peristiwa itu terjadi, mengapa keduanya saling terkait. Misalnya, mengapa letusan gunung berapi selalu diikuti oleh perpindahan penduduk dan perubahan mata pencaharian.
Konteks semacam ini merangsang otak peserta didik membangun peta pengetahuan yang lebih kaya dan kompleks, membuat proses belajar menjadi sebuah petualangan intelektual yang memuaskan.
Kesimpulan
IPAS mengajarkan interaksi antara manusia, masyarakat dan lingkungan. Alam dan kehidupan sosial tidak dapat dipisahkan, mata pelajaran ini penting kita terapkan pada pendidikan dasar. IPAS merupakan pembelajaran yang bermakna, kontekstual dan fokus pada pembentukan manusia yang mampu beraksi nyata dilingkungan.
Minat peserta didik dalam pembelajaran IPAS bukan sesuatu yang datang secara instan, melainkan harus dibangun melalui strategi pedagogis yang tepat.
Dengan berfokus pada materi konteks lokal, memberdayakan peserta didik melalui proyek-proyek nyata, dan secara konsisten menunjukkan keterkaitan antar ilmu, IPAS dapat bertransformasi dari sekadar mata pelajaran wajib menjadi sebuah platform menarik bagi peserta didik untuk menjelajahi dan memahami dunia mereka.
Guru adalah kunci utama dalam proses bertindak sebagai fasilitator yang mengarahkan rasa ingin tahu alami peserta didik menjadi minat belajar.
Karya ini telah terbit pada buku yang berjudul “KAPABILITAS PERSONAL”
