1000443415
Mewarnai Hobiku

Mewarnai Hobiku

Oleh: Uwais Al-Qarni (Kelas IV Al-Khaliq)

Pagi itu, aku bangun dengan perasaan yang sangat bahagia. Bukan karena mendapat uang jajan yang banyak, bukan karena hadiah, dan bukan juga karena mendapat nilai bagus. Pagi itu aku merasa senang karena hari tersebut adalah pengalaman pertama kalinya aku mengikuti lomba mewarnai.

Saat itu aku masih duduk di bangku PAUD. Aku langsung beranjak dari tempat tidur dan segera bersiap-siap berangkat ke sekolah. Aku diantar dengan motor Scoopy kebanggaanku, hehe…

Sesampainya di sekolah, aku bertemu dengan teman-temanku. Ada yang namanya Zahrun, Zaid, Rayyhan, Thoria, dan lain-lainnya. Kami pun bersiap-siap menuju lapangan PAUD untuk mengikuti lomba mewarnai. Setibanya di lapangan, aku menyiapkan krayon dan berdoa agar bisa mendapatkan juara.

Aku pun mendengarkan persyaratan lomba yang dibacakan oleh panitia. Waktu yang diberikan untuk mewarnai adalah satu jam, alias enam puluh menit. Sketsa yang diberikan oleh panitia adalah gambar masjid. Dengan tidak terasa, waktu terus berjalan.

Waktunya pun habis dan aku pun tidak mengetahui bahwa ada bagian gambar yang tercoret. Aku mengumpulkan gambar tersebut dan merasa sedih karena ada pikiran bahwa nilainya akan rendah. Juri pun sudah selesai memberi nilai. Aku merasa sangat berdebar-debar menunggu pengumuman juara. Ternyata, aku tidak menang dan itu membuatku sangat putus asa. Aku mengatakan pada diriku sendiri bahwa aku tidak cocok dengan lomba ini.

Guru-guruku mencoba menghiburku dengan mengatakan bahwa Uuais sudah berbuat baik, dalam artian Uuais sudah berani mencoba meski belum menang. Mereka berpesan agar Uuais tidak halus (patah) semangat dan terus mencoba. Namun, saat itu aku masih merasa sedih.

Satu tahun kemudian, aku naik ke kelas 1 MIN (Madrasah Ibtidaiyah Negeri). Nama sekolah yang kupilih adalah MIN 27 Aceh Besar. Aku mendengar bahwa MIN 27 Aceh Besar memiliki banyak prestasi, mulai dari Matematika, Bahasa Inggris, IPA, IPS, dan pelajaran lainnya. Menurutku, ilmuku akan berkembang di sini.

Saat aku duduk di kelas 1, aku mengikuti lomba yang diadakan oleh MIN 27 Aceh Besar. Aku merasa sangat bersemangat. Pagi-pagi sekali pada jam 07.00, aku sudah sampai di sekolah. Acara lomba mewarnai pun dimulai. Persyaratan lomba mewarnai kali ini berbeda dengan saat PAUD; waktu yang diberikan lebih lama, yaitu satu jam tiga puluh menit. Pastikan kali ini tidak ada bagian yang tercoret. Aku pun berdoa agar Tuhan memberikan jalan.

Tema lomba kali ini diberikan oleh Ibu Guru, yaitu menggambar susu Zee. Tidak terasa waktunya sudah habis. Aku pun mengumpulkan hasil mewarnaiku dengan percaya diri. Juri pun sedang menilai. Aku kembali merasa sangat berdebar-debar karena aku tidak ingin mengecewakan orang tuaku.

Juri pun siap menilai dan mengumumkan hasilnya. Ternyata, aku menang! Aku mengambil piagam penghargaan tersebut. Saat aku sampai di kelas, teman-temanku memujiku. Aku merasa sangat bersyukur dan berterima kasih kepada orang tuaku yang selalu mendukungku.

Sepulangnya dari sekolah, aku sangat senang karena itu adalah kemenangan pertamaku. Semenjak kemenangan itu, aku mulai rajin menggambar dan mewarnai untuk mengasah kemampuanku. Aku juga mulai rajin mengikuti lomba-lomba lainnya.

Pesanku untuk teman-teman: Jangan pernah menyerah karena satu kali kekalahan. Sebaliknya, jadikan itu motivasi karena masa depan yang cerah menantimu. Semenjak itu, mewarnai dan menggambar pun resmi menjadi hobiku.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait

Legenda Danau Laut Tawar

Sumber Youtube MIN 27 Aceh Besar Dari video ini menceritakan tetntang kisah Danau laut Tawar dalam bentuk story telling. Story telling ini dibawakan oleh Nurul Izzah siswi MIN 27 Aceh Besar pada ajang lomba Marssal 8 MTsN Model Banda Aceh. Dalam story telling ini menceritakan pada zaman dahulu di tanah Takengon, Aceh hiduplah seorang putri

Baca selengkapnya...

Sang Inspirator

    Menurut Peter F.Drucker, “Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya”. Berbicara mengenai pemimpin … sosok kepala Madrasah MIN 27 Aceh Besar sudah malang melintang dalam dunia pendidikan, sudah banyak sekolah yang dibawah kepemimpinan beliau berhasil menjadi sekolah favorit. Hal tersebut tidaj

Baca selengkapnya...