Nama: Syarifah Aisyah
Kelas 6 Digital Ar-Rasyid
Setiap hari Senin dan Rabu, setelah jam sekolah selesai pukul 13.00, aku tidak langsung pulang seperti teman-teman ku yang lainnya. Biasanya, ummiku datang ke sekolah membawakan makan siang untukku. Setelah makan dan beristirahat sebentar, aku bersiap-siap mengikuti kelas tahfidz yang di mulai pukul 14.00 dan berakhir pukul 16.00. Aku mengikuti kelas tahfidz ini bersama adikku Syarifah Khadijah yang masih kelas 4. Kami berdua selalu berangkat bersama, saling menyemangati untuk terus menghafal Al-Quran.
Aku masih ingat, pada 28 April 2025, ummiku memberitahuku bahwa aku resmi masuk ke kelas khusus tahfidz. Aku sangat senang mendengarnya karena akhirnya aku bisa lebih fokus memperdalam hafalanku bersama teman-teman. Aku mulai menghafal dari juz 30, di mulai dari surah An-Naba’. Hari demi hari aku terus berusaha dan akhirnya aku sampai juga di surah An- Nas.
Suasana belajar di kelas tahfidz selalu membuatku semangat. Ada seorang teman bernama Arkan yang pernah berkata, “Aku sudah juz 1,,, bukan juz 30 lagi!”. Awalnya aku mengira dia mau membuatku hilang semangat, tetapi akhirnya malah sebaliknya. Di dalam hati aku merasa tertantang. Ucapan itu membuatku ingin berusaha lebih keras supaya suatu hari nanti aku juga bisa sampai ke juz 1.
Guru tahfidz kami adalah ustadz Zarkashi yang selalu menyemangatiku. Sampai suatu hari beliau berkata, “Syarifah, tes saja terus ya,,, biar nanti bisa ditasmi’kan. Aku pun berlatih dan dites hafalan. Kadang aku lupa urutan beberapa surah pendek, tapi ustadz Zarkashi dengan sabar membantu ku mengingatkan. Beliau juga berkata, “tasmi’ itu harus dari hafalan mu sendiri, jadi diulang-ulang lagi yaa,”. Kalimat itu membuatku faham bahwa keberhasilan datang dari usaha sendiri, bukan bantuan dari orang lain.
Hari tasmi’ pun tiba. Hari yang paling aku tunggu dan juga aku takuti. Hari itu hari Rabu tanggal 27 Agustus 2025. Aku sangat gugup sekali. Di ruang mushalla, sudah hadir ibu kepala madrasah ibu Naswati, Ummi, Nek Abu, mami, teman-temanku juga guru-guru MIN 27 Aceh Besar. Pak Furqan telah menyiapkan ponsel untuk menyiarkan tasmi’ secara live melalui Chanel Instagram MIN 27 Aceh Besar. Jantungku berdebar kencang,,, berarti banyak orang yang akan menontonku. Tapi aku memberanikan diri, membaca satu persatu surah yang di mulai dari An-Naba’ sampai An-Nas. Meskipun sempat ada sedikit bagian yang lupa karena gugup, namun aku terus melanjutkan dengan tenang, karena aku tahu semua orang pasti pernah berbuat kesalahan.
Setelah selesai, aku menutup bacaan dengan tangan yang dingin karena gugup, tapi hatiku sangat lega. Semua orang yang hadir di acara tasmi’ bershalawat, lalu aku bersalaman dengan Ummi, menerima hadiah yang diberikan oleh ibu kepala madrasah ibu Naswati. Aku hampir menangis karena terharu. Aku merasa perjuanganku selama ini akhirnya terbayar. Yang paling unik, hadiah yang aku terima adalah Al-Qur’an yang bertuliskan Ar-Rasyid sama dengan nama kelasku. Aku dan teman-teman spontan berseru, ” kebetulan banget, ihh!” Suasana mushalla pun dipenuhi taw dan bahagia.
Tak lama kemudian, adikku Khadijah datang membawa hadiah bouguet kecil untukku. Aku sangat senang, itu adalah hadiah yang paling spesial karena datang dari adikku sendiri. Aku tahu Khadijah masih berjuang menghafal dan belum ditasmi’kan,,, tapu aku selalu menyemangatinya agar tidak menyerah. Momen itu tidak akan pernah kulupakan. Dari kelas tahfidz ini aku belajar bahwa hafalan bukan hanya tentang mengingat ayat akan tetapi tentang arti kesabaran, semangat dan keikhlasan. Jika kita terus berusaha, pasti Allah akan membantu kita dalam mencapai impian kita. Aamiin ya Rabbal Alamiin…
