PENGGUNAAN MODEL SNOWBALL THROWING DALAM PEMBELAJARAN IPAS
Nurul Izzati, S.Pd
Pendidikan memegang peranan penting dalam kehidupan karena pendidikan merupakan wahana untuk meningkatkan dan mengembangkan sumber daya manusia. Upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan terus-menerus dilakukan baik secara konvensional maupun inovatif. Namun demikian, berbagai indikator mutu pendidikan belum menunjukkan peningkatan yang berarti. Kualitas pendidikan banyak bergantung pada kualitas pendidik dalam membimbing proses belajar mengajar. Pendidik sebagai komponen penting dalam transformasi pendidikan harus mampu mempersiapkan bahan pelajaran, strategi pembelajaran, melaksanakan evaluasi serta mengembangkan model pembelajaran guna mewujudkan pendidikan yang berkualitas.
Pembelajaran merupakan suatu kegiatan yang dirancang oleh pendidik agar peserta didik mampu melakukan kegiatan belajar demi tercapainya tujuan atau kompetensi yang diharapkan. Dalam merancang kegiatan pembelajaran ini, seorang pendidik semestinya memahami karakteristik peserta didik, tujuan pembelajaran yang ingin dicapai atau kompetensi yang harus dikuasai peserta didik, materi ajar yang akan disajikan, dan cara yang digunakan untuk menyampaikan materi serta penggunaan bentuk dan jenis penilaian yang akan dipilih untuk melakukan pengukuran terhadap ketercapaian tujuan pembelajaran atau kompetensi yang telah dimiliki peserta didik.
Tantangan yang dihadapi umat manusia kian bertambah dari waktu ke waktu. Permasalahan yang dihadapi saat ini tidak lagi sama dengan permasalahan yang dihadapi satu dekade atau bahkan satu abad yang lalu. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus dikembangkan untuk menyelesaikan setiap tantangan yang dihadapi. Oleh karenanya, pola pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) perlu disesuaikan agar generasi muda dapat menjawab dan menyelesaikan tantangan-tantangan yang dihadapi di masa yang akan datang. Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) adalah ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang makhluk hidup dan benda mati di alam semesta serta interaksinya, dan mengkaji kehidupan manusia sebagai individu sekaligus sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan lingkungannya. Secara umum, ilmu pengetahuan diartikan sebagai gabungan berbagai pengetahuan yang disusun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan akibat (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2016). Pengetahuan ini melingkupi pengetahuan alam dan pengetahuan sosial.
Pembelajaran IPAS merupakan gabungan pembelajaran IPA dan IPS disederhanakan menjadi satu mata Pelajaran. IPAS memiliki peran dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila sebagai gambaran ideal profil peserta didik Indonesia. IPAS membantu peserta didik menumbuhkan keingintahuannya terhadap fenomena yang terjadi di sekitarnya. Keingintahuan ini dapat memicu peserta didik untuk memahami bagaimana alam semesta bekerja dan berinteraksi dengan kehidupan manusia di muka bumi. Pemahaman ini dapat dimanfaatkan untuk mengidentifikasi berbagai permasalahan yang dihadapi dan menemukan solusi untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Prinsip-prinsip dasar metodologi ilmiah dalam pembelajaran IPAS akan melatih sikap ilmiah (keingintahuan yang tinggi, kemampuan berpikir kritis, analitis dan kemampuan mengambil kesimpulan yang tepat) yang melahirkan kebijaksanaan dalam diri peserta didik.
Masalah utama dalam pembelajaran pada pendidikan formal (sekolah) dewasa ini adalah masih rendahnya daya serap peserta didik. Hal ini tampak dari rata-rata hasil belajar peserta didik yang masih memprihatinkan. Prestasi ini tentunya merupakan hasil kondisi pembelajaran yaang masih bersifat konvensional dan tidak menyentuh ranah dimensi peserta didik itu sendiri, yaitu bagaimana sebenarnya belajar itu. Dalam arti yang lebih substansial, bahwa proses pembelajaran dewasa ini masih memberikan dominasi pendidik dan tidak memberikan akses bagi anak didik untuk berkembang secara mandiri melalui penemuan dalam proses berpikirnya.
Pendidik sering melaksanakan proses pembelajaran dengan menggunakan metode ceramah. Metode ceramah ini, membuat peserta didik cenderung pasif dan kurang menimbulkan interaksi antara peserta didik dengan pendidik maupun antara peserta didik dengan peserta didik mengenai materi pembelajaran. Peserta didik hanya duduk dan mendengarkan penjelasan pendidik serta kurang merespon meteri yang disampaikan pendidik. Keberanian peserta didik untuk bertanya ataupun menjawab pertanyaan dari pendidik juga kurang. Metode pembelajaran konvesional ini menjadikan pendidik sebagai pusat pembelajaran sehingga kurang melibatkan partisipasi aktif peserta didik. Hal tersebut berpengaruh terhadap hasil belajar peserta didik.
Untuk menciptakan kegiatan pembelajaran yang menyenangkan serta dapat memotivasi peserta didik, maka perlu dikembangkan suatu model pembelajaran yang menyenangkan, efektif dan efisien serta membuat peserta didik aktif. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan adalah model Snowball Throwing. Model Snowball Throwing yaitu model pembelajaran yang menggali potensi kepemimpinan peserta didik dalam kelompok dan keterampilan membuat serta menjawab pertanyaan yang dipadukan melalui suatu permainan imajinatif membentuk dan melempar bola salju.
Model pembelajaran Snowball Throwing adalah model pembelajaran yang memberikan pengalaman kepada peserta didik melalui pembelajaran terpadu dengan menggunakan proses yang saling berkaitan dalam situasi dan konteks komunikasi alamiah baik sosial, sains, hitungan dan lingkungan pergaulan. Langkah-langkah umum model Snowball Throwing
Guru menyampaikan materi pelajaran IPAS.
Siswa berdiskusi dalam kelompok tentang materi yang telah disampaikan guru.
Siswa membuat pertanyaan di lembar kertas, lalu menggulungnya menjadi bentuk bola salju.
Siswa melempar bola-bola tersebut kepada kelompok lain.
Kelompok penerima menjawab pertanyaan yang ada di dalam bola, lalu membuat bola baru dengan pertanyaan lain untuk dilempar kembali. Sehingga, dengan menerapkan pembelajaran Snowball Throwing peserta didik diajak untuk berpartisipasi secara aktif selama proses pembelajaran dengan begitu peserta didik akan berminat mengikuti pembelajaran.
Penggunaan model Snowball Throwing efektif dalam kurikulum IPAS SD/MI karena dapat meningkatkan keaktifan, hasil belajar, dan minat siswa, serta membuat pembelajaran lebih menyenangkan dan interaktif. Metode ini membuat siswa terlibat langsung dalam membuat dan menjawab pertanyaan, melatih aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik, serta menumbuhkan potensi intelektual, sosial, dan emosional.
Karya ini telah terbit pada buku yang berjudul “KAPABILITAS PERSONAL”
