Judul: Perjalananku
Penulis: Nanang Widjajanto, S.Pd
Penerbit: CV Kekata Group
Genre: Kumpulan Puisi (Antologi)
Tema Utama: Kontemplasi diri, perjalanan hidup, dan hubungan manusia dengan Sang Pencipta.
Sinopsis dan Isi
Buku ini bukan sekadar kumpulan kata yang berima, melainkan sebuah catatan perjalanan batin. Sesuai dengan judulnya, Perjalananku merangkum berbagai fase kehidupan penulis—mulai dari momen kegelisahan, pencarian jati diri, hingga titik balik di mana ia menemukan kedamaian.
Puisi-puisi di dalamnya cenderung bergaya liris, dengan pilihan kata yang sederhana namun sarat makna. Penulis tidak berusaha menggunakan diksi yang terlalu berat atau abstrak, melainkan menggunakan simbol-simbol alam (seperti senja, jalan setapak, dan angin) untuk menggambarkan perasaan yang kompleks.
Nanang menggunakan gaya bahasa yang lugas. Hal ini membuat puisinya mudah dinikmati oleh pembaca awam sekalipun. Ia tidak terjebak dalam metafora yang terlalu gelap, sehingga pesan moral dalam setiap baitnya tersampaikan dengan jernih.
Tema besar dalam buku ini adalah keikhlasan. Penulis seolah ingin menyampaikan bahwa setiap langkah dalam perjalanan hidup baik itu tanjakan yang melelahkan maupun turunan yang melegakan adalah bagian dari takdir yang harus dijalani dengan syukur.
Kelebihan
Banyak puisi yang terasa sangat dekat dengan keseharian pembaca, terutama tentang rasa rindu dan kegagalan.
Penulis tampak sangat jujur dalam mengekspresikan kerentanan dirinya, yang justru menjadi kekuatan utama buku ini.
Biasanya buku puisi ini disusun dengan ruang kosong yang cukup, memberikan “napas” bagi pembaca untuk merenungkan setiap bait sebelum pindah ke puisi berikutnya.
Kekurangan
Pengulangan Tema: Beberapa puisi memiliki kemiripan tema yang cukup dekat, sehingga bagi sebagian orang mungkin terasa sedikit repetitif di pertengahan buku.
Kesimpulan
Perjalananku adalah buku yang cocok dibaca saat sedang sendiri atau membutuhkan ketenangan. Buku ini berfungsi sebagai pengingat bahwa setiap orang sedang dalam perjalanannya masing-masing, dan tidak ada perjalanan yang sia-sia selama kita berani melangkah.
“Bukan seberapa cepat kita sampai ke tujuan, tapi seberapa dalam kita memaknai setiap jejak yang tertinggal di belakang.”
Karya: Razila Azzahra, S. Pd
Tim MINAT Tabloid MIN 27 Aceh Besar
