1000445341
SUKA DUKA DALAM PENGABDIAN 20 TAHUN

SUKA DUKA DALAM PENGABDIAN 20 TAHUN

Muliyawati, S.Pd.I

 

Sudah dua puluh tahun saya menjalani profesi sebagai seorang guru. Waktu yang tidak sebentar, bahkan jika dihitung, hampir separuh usia dewasa saya dihabiskan di sekolah, berinteraksi dengan murid, menyusun rencana pembelajaran, menyiapkan bahan ajar, hingga menghadapi beragam karakter anak-anak dari tahun ke tahun. Profesi ini memang sering disebut sebagai pekerjaan mulia, karena guru diibaratkan sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Namun, di balik sebutan itu ada suka duka yang tidak sedikit.

Sejak awal, saya mengajar mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Mata pelajaran ini sering dianggap menantang oleh siswa, bahkan tidak sedikit yang menganggapnya sulit. Sebagai guru, saya berusaha mencari cara agar IPA tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi menjadi sesuatu yang menarik dan menyenangkan. Saya masih ingat bagaimana di tahun-tahun pertama mengajar, saya sering kebingungan menghadapi siswa yang cepat bosan jika hanya mendengarkan ceramah. Dari situ, saya mulai belajar untuk lebih kreatif, membawa alat peraga sederhana, melakukan percobaan kecil di kelas, atau mengajak siswa keluar ruangan untuk melihat langsung fenomena alam.

Di sinilah letak salah satu suka dari profesi ini. Ada kepuasan tersendiri ketika melihat mata siswa berbinar karena berhasil memahami konsep yang sebelumnya mereka anggap rumit. Misalnya, saat melakukan percobaan sederhana tentang gaya gravitasi atau mengamati perubahan wujud benda, siswa terlihat antusias. Mereka saling bertanya, saling berdiskusi, bahkan berebut untuk mencoba. Dari momen seperti inilah saya merasa bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan materi, melainkan juga menumbuhkan rasa ingin tahu, rasa kagum terhadap ciptaan Tuhan, dan kemampuan berpikir kritis pada anak-anak.

Namun, tentu tidak semua pengalaman berjalan mulus. Duka sebagai seorang guru pun sering saya alami. Salah satunya adalah keterbatasan fasilitas. Tidak semua sekolah memiliki laboratorium lengkap atau peralatan eksperimen yang memadai. Sering kali saya harus memutar otak agar materi IPA bisa tetap dipahami dengan baik meskipun sarana terbatas. Saya terbiasa membawa benda-benda dari rumah, mulai dari botol plastik, lilin, karet gelang, hingga sayuran, hanya untuk membantu siswa memahami konsep sains.

Duka lain datang dari perubahan zaman. Dua puluh tahun lalu, siswa masih sangat terbiasa dengan buku cetak dan papan tulis. Tetapi sekarang, era digital menuntut guru untuk lebih melek teknologi. Saya harus belajar lagi, menguasai perangkat digital, aplikasi pembelajaran, hingga metode daring yang sebelumnya tidak pernah terbayang. Di masa pandemi, misalnya, saya harus mengajar lewat layar laptop. Awalnya terasa kaku, banyak kendala jaringan, bahkan ada siswa yang sulit mengikuti karena keterbatasan gawai. Namun, di situlah saya belajar bahwa menjadi guru berarti tidak boleh berhenti beradaptasi. Guru harus terus belajar agar bisa mendampingi siswanya, apa pun kondisinya.

Selain itu, duka juga terasa ketika menghadapi siswa yang kurang termotivasi. Ada kalanya saya merasa lelah, bertanya-tanya apakah apa yang saya lakukan sudah cukup. Tetapi setiap kali melihat perkembangan anak-anak yang dulunya kesulitan, lalu perlahan bisa mengikuti, bahkan ada yang kemudian memilih melanjutkan pendidikan ke jurusan sains, rasa lelah itu terbayar.

Salah satu momen paling membahagiakan dalam perjalanan saya adalah ketika bertemu kembali dengan mantan siswa. Ada yang sudah bekerja, ada yang sudah berkeluarga, bahkan ada yang menjadi guru juga. Mereka menyapa dengan penuh hormat, menceritakan bahwa pelajaran IPA yang saya berikan dulu membuat mereka lebih kritis dan peduli terhadap lingkungan sekitar. Hal-hal sederhana seperti itu sungguh membuat hati saya hangat. Saya merasa pengabdian selama dua puluh tahun ini tidak sia-sia.

Dari perjalanan ini, saya belajar bahwa menjadi guru bukan hanya soal mengajar mata pelajaran. Lebih dari itu, guru adalah pendidik yang berperan dalam membentuk karakter. Lewat IPA, saya mengajarkan pentingnya rasa ingin tahu, kerja sama, dan menghargai proses. Lewat keseharian di kelas, saya juga belajar tentang kesabaran, keikhlasan, dan arti tanggung jawab.

Dua puluh tahun bukan akhir, melainkan bagian dari perjalanan panjang yang masih terus berjalan. Saya sadar masih banyak yang harus saya pelajari, baik dari perkembangan ilmu pengetahuan maupun dari pengalaman sehari-hari di kelas. Saya ingin tetap menjadi guru yang bisa beradaptasi dengan zaman, dekat dengan murid, dan memberi inspirasi lewat hal-hal sederhana.

Pada akhirnya, suka dan duka dalam pengabdian ini menjadi warna tersendiri dalam hidup saya. Suka yang memberi semangat, dan duka yang menguatkan. Saya percaya, setiap tetes keringat dan kesabaran dalam mendidik akan berbuah manis, meski mungkin tidak langsung terlihat. Karena mengajar bukan sekadar profesi, melainkan panggilan hati. Dan saya bersyukur, panggilan itu masih terus saya jalani hingga hari ini.

 

Karya ini telah terbit pada buku yang berjudul “KAPABILITAS PERSONAL”

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait

Legenda Danau Laut Tawar

Sumber Youtube MIN 27 Aceh Besar Dari video ini menceritakan tetntang kisah Danau laut Tawar dalam bentuk story telling. Story telling ini dibawakan oleh Nurul Izzah siswi MIN 27 Aceh Besar pada ajang lomba Marssal 8 MTsN Model Banda Aceh. Dalam story telling ini menceritakan pada zaman dahulu di tanah Takengon, Aceh hiduplah seorang putri

Baca selengkapnya...

Sang Inspirator

    Menurut Peter F.Drucker, “Pemimpin yang efektif bukan soal pintar berpidato dan mencitrakan diri agar disukai. Kepemimpinan tergambar dari hasil kerjanya, bukan atribut-atributnya”. Berbicara mengenai pemimpin … sosok kepala Madrasah MIN 27 Aceh Besar sudah malang melintang dalam dunia pendidikan, sudah banyak sekolah yang dibawah kepemimpinan beliau berhasil menjadi sekolah favorit. Hal tersebut tidaj

Baca selengkapnya...