Aceh Besar, 19 maret 2026. Tradisi Meugang (atau Makmeugang) adalah salah satu fenomena sosiokultural paling unik di Aceh. Ini bukan sekadar ritual makan daging, melainkan simbol kemakmuran, kebersamaan, dan penghormatan terhadap hari besar Islam (Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha). Asal-usul: Tradisi meugang pada masa Sultan Iskandar Muda (Abad ke-17). Kala itu, Sultan menyembelih hewan dalam jumlah besar dan membagikan dagingnya secara gratis kepada rakyat sebagai bentuk rasa syukur dan persiapan menyambut bulan suci.
Bagi masyarakat Aceh, menyambut bulan suci atau hari kemenangan harus dirayakan dengan hidangan terbaik. Daging sapi atau kerbau menjadi menu utama karena dianggap sebagai simbol kemewahan. Tradisi megang ini munculnya pasar dadakan, di pinggir jalan dijualnya daging sapi yang harga tinggi dari Rp. 150.000 sampai Rp. 180.000 walaupun mahal masyarakat tetap membeli.
Masakan yang di masak padar hari meugang seperti, sie reuboh, rendang, asam keu’eng, sop dan gulai merah, untuk makan bersama keluarga. Pada daerah Aceh Barat l-selatan mereka setiap hari meugang memasak ketan yang di masukkan ke dalam bammbu dan di bakar disebut dengan leumang.
Suasana meugang ini berkumpulnya seluruh keluarga, arus mudik yang sangat padat, yang di perantauan pulang kekampung menikmati hari meugang bersama. Bagi perantau yang tidak bisa pulang, tradisi ini dirayakan dengan mengirimkan uang atau paket daging kepada orang tua di kampung atau orang tua mengirimkan masakan daging ke anak diperantauan.
Meugang bukan sekadar perayaan kuliner, melainkan manifestasi dari nilai religiusitas yang berpadu dengan kearifan lokal. Ia adalah pengingat bahwa kebahagiaan sejati ditemukan saat kita berbagi keberkahan dengan sesama
Oleh: Shafana Nafisah, S.Pd
Tim Minat Tabloid MIN 27 Aceh Besar
